Advertisement
Asia Digital
seahawk
event calendar
wbw

taka adventure

Kalala, Destinasi Pemancing Laut Dalam di Sumba Timur. PDF Print E-mail

Image
Kapal Mancing di Sumba

Satu bulan setelah trip ke Kupang di pulau Timor, Majalah MANCING berkesempatan untuk melihat lebih dekat perairan tetangga Timor yakni Sumba, tepatnya di Kabupaten Sumba Timur.

Info awal yang diterima Sulaiman Tamin, teman seperjalanan saya kali ini, adalah bahwa di perairan Selatan pulau Sumba, yang merupakan Lautan Hindia, banyak sekali ikan umpan, tampak di permukaan laut hamparannya bisa sampai 1 hektar !. Tidak heran kalau dia segera mempersiapkan dirinya sejak 3 minggu sebelum turnamen yang belangsung tanggal 23 dan 24 Nopember 2007.yang lalu.

Entah kenapa pada turnamen yang jelas-jelas mendorong pesertanya untuk mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya itu, Sulaiman hanya mau menargetkan bilfis. Apa karena  masih ingin mengulangi pengalaman manisnya melakukan C&R layaran di Rumpin, Malaysia pada bulan Agustus yang lalu, atau karena memikirkan “kesejahteraan”  tulang punggungnya kalau harus mengajar GT. Yang pasti, sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia hanya mengejar bilfis pada setiap turnamen. Baginya hanya dua pilihan : Bilfis atau GT (Gagal Total). Target hanya bilfis inilah yang justru membuat saya menyambut gembira ajakan beliau untuk menemaninya ke Waingapu ini.

Sulaiman (64 tahun) ternyata bukan manula satu-satunya, ada yang lebih tua lagi, Yuwono Kolopaking, ketua Umum FORMASI ternyata lebih sepuh lagi, usianya tujuh puluh tahun !, sama sekali bukan usia yang ideal untuk ikut turnamen mancing. Apalagi mancing di Kalala yang mempunyai jarak tempuh 120 Km.dari Waingapu, ibu kota kabupaten Sumba Timur, menyusuri pantai Timur pulau Sumba ke arah Selatan. Beliau memang pantas bangga sebagai pemancing tertua di Indonesia dan masih aktif mancing. Kalau tahun depan beliau masih ikut turnamen mancing memang pantas untuk dilestarikan di museum….. Museum Rekor Indonesia (MURI).

Image
Yuwono Kolopaking - Terka sedang nyanyi atau pidato?
 

Turnamen ini memang berat untuk diikuti para pemancing sepuh, karena pesaingnya adalah para pemancing muda berpengalaman, jagoan popping pula. Sebut saja, Tim ORCA diketuai oleh Aan “xxxxxx” Burhanudin, yang nama tengahnya tidak tega untuk ditulis di sini. Ada Tim yang ngakunya dari Bali tapi belakangan ketahuan asli Surabaya, karena logat bicaranya bau petis, dengan pemancing Halim dan Engelbert serta Wahyu dan Rudi Tamaela kakak beradik yang sudah melalang sebagian besar pesisir dan karang di Indonesia Timur walau hanya sekedar mencari GT.. Tidak ketinggalan juga tim dr Benyamin Hasan penyapu bersih turnamen mancing di Painan. Masih ada lagi Pristianto, pemancing dari Bekasi Fishing Club.Belum lagi tim Bahari, yang merupakan “predator” perairan lokal Sumba dengan pemancing Rizal dan Ryan. Dan last but not least, ada Eric Laoh Bendahara FORMASI yang  mengetuai Tim Mitra-Daiwa II yang ternyata kemudian menjuarai turnamen ini..Sedangkan Sulaiman yang masih ganteng diusianya yang tergolong sepuh ini, entah kenapa biasa memakai nama Si Gareng sebagai trade-mark-nya dalam setiap turnamen.

Image
Satu-satunya T&R Billish oleh Tim Mitra Daiwa 2
 

Kami sudah menyiapkan perangkat GPS dan Fish Finder lengkap dengan bracket serba bisa untuk mencelupkan tranduser berdaya 600 Watt ke laut. Membeli aki motor berdaya 10 AH, seharga Rp 200 ribu di Waingapu. Semuanya nyaris tidak berguna, karena rombongan baru tiba sekitar pukul 6 sore di Kalala, sedang kapal pancing terletak sekitar 500 meter dari lokasi kami menginap. Yang lebih celaka lagi kami tidak tahu kapal mana yang diperuntukan untuk kami, karena katanya harus diundi. Sehingga tidak ada waktu untuk memasang bracket yang sudah jauh-jauh dibawa dari Jakarta. Harapannya besok pagi ada cukup waktu untuk memasang tranduser..


Malam itu ada acara pembukaan turnamen secara resmi oleh Bupati Sumba Timur, Ir.Umbu Mehang Unda, bukan dengan gong, tapi dengan cara mengetuk mikropon tiga kali.. pop ..pop…pop... lalu tepuk tangan membahana, dan hiburan berupa nyanyian dan dansapun dimulai… Masyarakat setempat yang entah datang dari mana, karena tidak terlihat rumah di sekitar “lokasi penampungan” kami, turut serta dalam acara ini. Dansa yang dimulai dengan poco-poco lalu cha-cha dilanjutkan dengan dansa ball-room (hanya saja kali ini di adakan di lapangan pasir) berakhir dengan dang-dut berlangsung sampai pukul 12 malam. Meriah memang, tapi tidak memberi waktu yang cukup bagi kami yang baru tiba pukul 6 sore dan berangkat pukul 6 pagi dari Jakarta.

Image
Dr.Benyamin, sedang menghibur tuan rumah... gede lho.
 

Besok paginya, seperti yang sudah diduga, kami tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk memindahkan semua peralatan mancing dan ransum beserta satu dus air mineral seberat 7.2 Kg ke kapal di pantai yang tidak berdermaga itu. ABK tidak tampak batang hidungnya walaupun pada Technical Meeting dijanjikan akan menjemput para pemancing. Untung panitia berhasil membangunkan supir bis dari tidurnya, sehabis mabuk semalam suntuk. Celakanya diapun lupa di mana kunci starternya di taruh. Baru 15 menit kemudian dia berhasil menemukan sang kunci yang ternyata tersembunyi di dasbor di dalam bis. Sehingga akhirnya sampailah kami di pantai yang landai tapi berombak itu tanpa harus mengerahkan otot yang sudah mulai kadaluwarsa ini. Semua peserta harus naik  “kapal tunda” berupa perahu alumunium yang didorong manusia untuk dipindahkan ke atas kapal pancing yang terletak agak ketengah. Dan seperti biasanya saya membutuhkan crane khusus untuk naik ke atas kapal. Tapi  bracket yang nyaris merampas uang akibat over-weight terpaksa harus ditinggalkan di darat karena tidak mungkin memasangnya pada situasi sekalut itu.

Kapal atau lebih tepatnya perahu pancing itu mempunyai atap berkontruksi kayu di bagian tengahnya, hanya saja tingginya cuma cukup untuk posisi duduk atau merangkak, kita harus menyelinap ke dalam dengan hati-hati kalau kepala tidak mau terantuk. Di atas atap memang lebih enak untuk diduduki, tapi perahu yang lebar totalnya hanya sekitar 2 meter itu olengnya hebat, ombak 60 cm saja, memaksa kita harus merangkak kalau mau berjalan di atasnya. Bukan soal bagi yang biasa merangkak, tapi tidak bagi kita manusia kota yang terbiasa jalan di atas 2 kaki. Apalagi atap kapal itu tidak berpagar sedikitpun.

Dari beberapa peserta yang sudah datang lebih awal dari tanggal turnamen maksudnya untuk mengenal lapangan lebih dahulu. Didapat informasi yang membuat meringis sebagian besar peserta, angin kencang dari arah Tenggara membawa gelombang dan ombak yang besar. Kecil kemungkinan, dari perahu nelayan yang mau tidak mau harus dipakai peserta ini, bisa mendekati pulau Salura (dipeta salah disebut sebagai Halura) yang menjadi lokasi incaran hampir semua peserta turnamen. Itulah yang menyebabkan panitia mengambil inisitaif untuk menurunkan bobot minimal ikan yang bisa ditimbang dari 10 kg menjadi hanya 8 Kg untuk mendapatkan poin. Pulau Salura sendiri, terletak sekitar 22.3 NM ke arah Barat dari Kalala (10°14'28.70"S 120°34'33.90"E) bukan merupakan lokasi yang dituju  oleh tim Si Gareng,  karena gelombang setinggi 2-3 meter dan ombak setinggi 60 cm pada hari itu sama sekali tidak nyaman untuk dilalui perahu yang hanya berukuran 9 meter dan berdaya 15 HP. Si Gareng memilih mengarah ke arah matahari terbit. Dengan harapan begitu mission accomplished akan seperti Lucky Luke yang pulang ke arah matahari terbenam.

Lagi pula, dengan arus dari arah Timur,diharapkan terjadi upwelling sepanjang pesisir Tenggara pulau Sumba. Target pertama adalah mencari kelompok ikan umpan yang katanya bisa satu hektar luasnya. Si Gareng … maksud saya Sulaiman segera menurunkan umpan pamungkas berupa bulu-bulu terbuat dari sutra, andalannya untuk mencari tongkol. Sayangnya seharian penuh usaha mencari umpan itu, hilir mudik sepanjang garis kedalaman 200 meter, ke tepi di kedalaman antara 20 sampai 200 meter, menelusuri eddy (tali arus) tempat pertemuan dua arus hanya dikaruniai penampakan 3 ekor dolpin, ikan terbang yang menyemburat dan beberapa ekor burung sebesar jempol kaki yang santai berayun di atas ombak. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain di laut yang airnya cukup jernih itu. Tidak ada seekor tongkol yang berhasil nyangkut di kail, sedangkan konahead dalam satu tas bersama semua ril, yang telah disiapkannya, tertinggal oleh maskapai penerbangan Merpati pada saat stop-over di Denpasar. Sehingga lengkaplah sudah argumentasi kami untuk gagal pada hari itu.

Yang ada hanya panas yang menyengat sepanjang hari dan angin yang berhembus kira-kira 5 knot. Ya.. hanya 5 knot. Dengan GPS kita mengetahui laju perahu. Kalau perahu berlayar mengikuti arah angin maka, bendera tidak berkibar sama sekali, dan badan terasa gerah akibat tidak ada angin yang terasa bergerak. Enaknya perahu tidak terlalu goyang, karena mengikuti ombak. Kalau perahu berlayar memotong angin maka,panasnya agak berkurang, karena ada cukup angin dari samping yang terasa bergerak. Tidak enaknya adalah kapal bergoyang hebat akibat ombak dari lambung kapal. Paling mending adalah kalau perahu berjalan melawan angin dan ombak, terasa segar karena angin menjadi terasa sangat kencang, kapal tidak terlalu goyang, tapi…. tetap saja ada yang tidak enak, air muncrat ke atas kapal, akibat perahu yang menabrak ombak, kaca mata menjadi basah, baju dan celana basah… nasib… nasib….

Begitulah, dari kering dan panas menjadi basah berulang-ulang, hari itu jam 15.00 si Gareng harus masuk kotak, pulang dengan ke basis turnamen. Menenteng joran dan dua buah ril 80 lbs pinjaman dari dr. Benyamin, kami berjalan gontai sekitar 500 meter di atas pasir. Sangat jauh dari citra Lucky Luke yang pulang ke arah matahari terbenam…. Tapi ternyata kemudian sudah ada 5 tim yang mendahului kami pulang menyerah, ada sedikit terbersit kelegaan penghilang malu, rupanya bukan kami yang pertama menyerah pada hari itu. Tidak banyak usaha yang dapat kami buat untuk memperbaiki posisi di hari kedua besok. Tidak ada tongkol, yang dapat kami beli, karena tidak ada kampung nelayan di Kalala. Yang ada hanya beberapa orang yang sedang menarik pukat di pantai dan hanya berhasil menjaring 1 ekor ikan belanak dan beberapa ikan karang. Ikan itu kami beli. Siapa tahu akar bisa menggantikan rotan yang tidak ada.

Satu demi satu peserta masuk menimbang ikan, kebanyakan adalah GT dan Tenggiri. Yang terberat adalah GT seberat 23.4 Kg teringan adalah Tenggiri seberat 8.4 Kg. Ada juga beberapa jenis snapper berwarna merah kehitaman yang berhasil di popping oleh peserta hanya saja bobotnya belum memenuhi kriteria 8 Kg. Tim BFC (Bekasi Fishing Club) yang diketuai oleh Pristianto dengan anggota Sutara, Andre dan satu-satunya wanita, Neneng berhasil merebut juara hari pertama setelah mengangkat 3 ekor ikan dengan bobot total 34,8 Kg. Sehingga pada hari itu, seluruh peserta berhasil mengangkat sedikitnya 24 ekor ikan berbagai jenis dengan total berat sekitar  2 kwintal.

Yang perlu dicatat adalah bahwa tim Mitra-Daiwa II berhasil strike yang diduga seekor marlin, cuma sayangnya terlepas karena leader-nya putus di tengah membawa lari konahead berwarna ungu-hitam. Tim Mitra-Daiwa II memang jauh lebih siap dari tim Si Gareng. Kapalnya sepanjang sekitar 12 meter didorong tiga buah mesin diesel kecil buatan Cina, sehingga berhasil menembus ombak ke sekitar pulau Salura. Mereka juga mempersiapkan peralatan popping selain troling. Satu-satunya strike marlin di hari itu membuat tim yang beranggotakan Emen (kapten kapal Mitra dari Binuangeun, Dudit –petualang bahari- Widodo dari TV-7 dan Johan dari Sumber Mulia (Daiwa) lebih percaya diri menghadapi hari Kedua.

Image
Emen dengan biang Barakuda Sumba
 

Malam harinya, penduduk setempat dan seluruh peserta turnamen dihibur oleh nyanyi-nyanyian dan pagelaran kesenian khas Sumba yang berlangsung sampai lagi lagi sampai jam 12 malam. Padahal start turnamen disepakati akan dimulai pukul.05.00 Tidak mungkin bagi kami untuk tidur beristirahat karena acara kesenian berupa tarian yang diselingi dengan nyanyian atau lebih tepatnya pekikan yang amplitudonya naik turun. Kadang hening lama-lama mulai mengeras terus sampai teriakan yang saya yakin membuat serak suara penyanyinya. Hal yang sangat menyiksa jika kita mencoba tidur adalah nyanyian itu bisa sangat halus membuai, selama satu dua menit sehingga sangat cocok buat pengiring tidur, tapi mendadak sontak ada pekikan-pekikan yang cukup membuat kuping bergetar dan mata terbeliak. Katanya sih, itu tarian pergaulan tradisi setempat. Tapi waktu ditanya oleh panitia setempat, arti atau makna dari kata-kata yang dinyanyikan itu,. Mulanya dia mencoba menjawab : “….terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami. Bla.. bla..bla.., ini adalah kesenian asli suku kami turun temurun… bla..ba..bla… terima kasih karena Golkar telah membangun daerah kami....” Nah lho.. enggak nyambung kan? Setelah pertanyaan diulangi sedikitnya dua kali baru dia mengatakan bahwa itu adalah bahasa yang mereka dengar dari orang tuanya yang katanya diturunkan dari kakeknya secara turun temurun yang mereka sendiri tidak mengerti artinya….

Esok paginya, jam 04.30, sarapan pagi berupa nasi putih dan mi instan yang digodog sampai mi nya mengembang akibat kuah yang terserap ke dalamnya, masih ada semacam nasi goreng berwarna coklat, yang telurnya tidak jelas ditaruh di mana. Sekaligus mengambil ransum yang juga berupa nasi goreng persis seperti kemarin. Mohon dimaklumi bahwa tidak ada pasar di Kalala, yang ada pasar sapi dan kuda. Pasar yang terdekat berjarak sekitar 60 Km. Tidak ada es, tidak ada camilan yang bisa menangsel perut. Hanya ada dua WC dan kamar mandi yang disediakan bagi sedikitnya 60 orang di barak penampungan kami. Untungnya air tawar cukup melimpah. Singkat kata, peserta dan semua peralatannya diangkut naik bis dan pick up ke pantai yang kali ini dipindah ke sebelah Timur dari tempat kemarin, maksudnya memang baik agar peserta bisa lebih cepat naik ke kapal masing-masing, karena pantainya terlindung oleh gugusan karang yang panjang dan terlindung dari segala arah. Masalahnya kemudian setibanya kami di sana, ternyata semua kapal telah kandas, ada yang sampai miring. Terpaksa keberangkatan harus ditunda menunggu air berangkat pasang yang terjadi sekitar pk 07.00 itupun para peserta masih harus kembali naik kole-kole menghantar ke kapal masing-masing. Waktu itu saya manfaatkan untuk pergi ke semak-semak berbekal selembar amplop bekas tiket pesawat, merilis yang sudah tertahan selama 48 jam.

Informasi yang kami kumpulkan sebelumnya dari FNMOC (Fleet Numerical Meteorology and Oceanography Center) di https://www.fnmoc.navy.mil/  yang dipadu dengan data dari Kochi University (http://weather.is.kochi-u.ac.jp ), pada hari Kedua ini diprediksi bahwa gelombang dan ombak dari Barat Daya akan mereda. Angin akan bertiup dari arah Barat  Puncak pasang pertama akan terjadi pada jam 08.40, puncak surut pada jam 14.18, puncak pasang berikutnya adalah jam  20.28. Jadi hari Kedua ini bisa merupakan hari yang cukup ideal, untuk troling karena waktu mancingnya menjadi cukup panjang. Kalaupun arusnya mati hanya akan terjadi sekitar pukul 08.40  dan 14.18 masing-masing selama sekitar 15 – 30 menit saja, karena perbedaan pasang dan surutnya sampai 3 meter lebih. Si Gareng dan banyak peserta lain mengarahkan haluan ke Barat ke Salura, hanya bedanya kami menuju garis kedalaman 200 meter mencari bilfis sedang yang lain menuju tepian karang di pesisir mencari GT. Tim Mitra-Daiwa II yang coba kami pantau lewat radio yang dipegang oleh Bankom (Bantuan Komunikasi) yang sekaligus pengawas rupanya hanya berfungsi memonitor kalau kalau ada keadaan darurat. Tidak ada informasi sama sekali tentang kejadian mancing yang termonitor. Benar-benar sendiri dan tidak terasa suasana kompetisi yang menggairahkan.

Saya bertugas menjadi pencari tanda-tanda kehidupan di bawah air tanpa tranduser. Bekalnya hanya GPS dengan map. Sepanjang jalan mata saya arahkan ke segala arah, depan, belakang, samping kiri dan kanan, mencari burung atau eddy Kali ini ketemu beberapa tali arus yang saya minta untuk ditelusuri oleh kapten perahu yang mengemudikannya dengan kaki… bukan karena dia tidak punya tangan, tapi karena ruang kemudi berada di bawah atap yang pendek tadi. Sedangkan tepat di atas kemudi ada lubang yang tembus ke atap, jadilah lebih nyaman baginya untuk menyetir dengan kaki. Kecepatan perahu bukan diatur dengan throtle handle, perahu ini mempunyai sistem yang sangat ‘maju’, yang bahkan belum sanggup diikuti oleh produsen kapal manapun. Perahu ini telah menerapkan teknologi speech recogniton bahkan movement detector jika suara sudah menjadi hilang karena serak. Ya …menjadi serak, karena dia harus berteriak setiap kali akan mengubah kecepatan perahu.agar supaya seorang ABK yang khusus siaga di dalam ruang mesin yang gemuruh bisa mendengar perintahnya. Kalau sudah demikian maka tangannya yang bergerak-gerak memberi perintah, tetap dengan teriakan putus asa, uh..uh..uh.. maksudnya turun..turun… untuk memperlambat laju perahu. Umpan belanak dan ikan snapper berwarna putih yang dijahit dengan pancing sirkel oleh Sulaiman, berenang dengan sempurna dibelakang perahu. Sedangkan tanda adanya ikan umpan tidak kelihatan sama sekali. Panas tetap menyengat, tidak ada tempat berlindung buat saya untuk beristirahat sekejabpun. Jam 11.00 siang perahu kami masih sekitar 13 NM ke pulau Salura. Butuh minimum 2 1/2 jam untuk sampai ke sana.dan butuh sekitar 4 1/2 jam untuk pulang. 7 jam total waktu perjalanan dan itu berarti pk 18.00 kami baru bisa balik ke turnamen base. Terlambat seandainya berhasil mendapat ikan sekalipun. Sang kapten perahu, yang mulanya sangat kooperatif menuruti arahkan kami, mulai kehilangan semangat. Meskipun dia tidak mengungkapkan dengan jelas, dari ucapan-ucapan dan kelakuan yang mulai melenceng kami bisa menangkap isyaratnya. Kalau perahu kami minta mengarah ke Barat terus menuju Salura, maka dia akan mengikutinya, tapi kemudian mulai melenceng sedikit ke Barat Laut, seakan tidak sengaja karena terdorong ombak, kalau didiamkan terus seakan memperbaiki posisi perahu yang bergoncang hebat akibat ombak lambung, akan makin melenceng ke Utara lalu ke Timur laut menuju pulang…. Ahaa…Saya yang sedang kepanasan ditambah dengan kulit sekitar lutut yang mulai perih terbakar, ikut-ikutan berlaga pilon…. Sampai Sulaiman berteriak keluar dari sarangnya di bawah atap, “…Gus… mau kemana kita..? kok ke pinggir…? ..cuaca bagus nih kita ke tengah lagi saja….”.  “..Oh.. Oke pak…” saya jawab. Sambil berpikir kemana lagi perahu harus saya arahkan? Ya sudah… perahu saya minta ke tengah saja menuju garis kedalaman 200 meter di sebelah Tenggara, mengulangi rute kemarin. Berputar-putar di sana sambil memperingati sang kapten yang selalu berusaha mendekati pantai Kalala. Lama kelamaan sayapun sudah tidak tahan dan mengusulkan untuk pulang saja, Sulaiman  setuju dan kami sukses menyelesaikan hari Kedua sebagai peserta pertama yang masuk ke Tournament Base pada jam 14.00 dan sang belanak masih tetap utuh seperti pada saat dijahit.

 Hari itu juga kami harus balik ke Waingapu untuk mengejar pesawat yang akan membawa kami ke Denpasar pada pukul 10 pagi. Peralatan dikemas kembali, mandi dan siap-siap menunggu upacara penutupan yang ternyata berlangsung sampai pukul 21.30 Secara keseluruhan turnamen ini sukses membantai nyaris setengah ton ikan berbagai jenis, sedangkan rekor ikan terberatnya adalah GT seberat 32.4 Kg, Barakuda seberat 25,4 Kg, Marlin Biru yang dirilis berbobot sekitar 30 Kg, Kuwe Sirip Biru seberat 6 Kg dan Kuwe yang jenisnya masih harus diidentifikasi seberat 9 Kg.

Image
Sylvia Anggraeni, ibu Bupati Sumba Timur

Turnamen yang diprakarsai pemancing setempat dan didukung penuh koordinator PKK Kabupaten Sumba Timur, Sylvia A Anggraeni.secara keseluruhan tergolong sukses besar, banyak rekor baru yang pecah serta variasi ikan pancingan yang cukup banyak. Terasa sekali kesungguhan hati panitia lokal untuk membuat segala sesuatunya menjadi menyenangkan bagi para peserta.

Image
Ryan Untoro, dengan ikan kuwe potensi rekor baru Nusantaranya
 

Hanya saja arahan dari panitia turnamen yang dibentuk FORMASI Pusat sedikit melenceng dari apa yang seharusnya menjadi misi FORMASI dan bisa dicontoh oleh daerah, yakni mengejar prestasi dan kualitas ketimbang kuantitas. Tidak ada fun yang hilang dalam suatu turnamen yang menekankan kualitas kalau turnamen itu dirancang dengan baik. Misalnya, untuk daerah yang relatif baru seperti Sumba, maka panitia bisa merangsang peserta untuk mengeksplor jenis-jenis ikan yang terdapat di sana. Ada juara ikan terberat untuk setiap spesies. Ada juara bagi yang berhasil menangkap berbagai spesies ikan.

Ada juara bagi yang pertama kali berhasil menangkap ikan pada hari itu. Ada juara bagi pemancing yag memecahkan rekor nusantara terbanyak, ada juara yang berhasil memasukkan spesies baru dalam rekor nusantara dan lain sebagainya. Banyak peserta yang tertarik untuk mancing kembali ke Sumba, karena potensi ikan di sana memang hebat. Waingapu bisa dicapai lewat Denpasar, banyak maskapai penerbangan yang melayani rute ini. Dari Jakarta sekitar 2.6 juta pulang-pergi (pada high season.). Di Waingapu sendiri banyak hotel yang sangat layakdengan tarip Rp 285.000 semalam full AC berikut makan pagi. Dari Waingapu ke Kalala kita harus menyewa mobil dengan biaya Rp 750.000 per trip.  Jalan rayanya sempit tapi cukup bagus dan banyak pemandangan yang unik yang tidak terdapat di daerah lain. Padang savanah diselingi oleh  rimbunan hutan tropis sepanjang sungai yang masih ada buayanya banyak terdapat di sana. Di Kalala, Baing dan sepanjang pantai Selatan dan Tenggara Sumba Timur, tidak ada warung, toko atau penginapan. Sebaiknya kita menyiapkan bekal makanan, air dan peralatan P3K yang cukup jika berminat ke sana. Anda berminat ? silakan hubungi ………… (AS)

  No Comments.
You need to login or register to post comments.
Discuss...
< Prev   Next >
 
Telaga Cibubur
Albecha
jackpot
Telaga Arwana
Damay
Telaga Cibubur
electrofish
Telaga Cibubur