Advertisement
Save Our Ocean PDF Print E-mail

Image
Propeler kapal jadi sering tersangkut sampah juga

Jeritan ril membuat kami yang sedang terkantuk-kantuk sontak terjaga. Nyaris berbarengan bagaikan paduan suara kami langsung berteriak "Strike!" Sementara salah satu teman dengan sigap meloncat dan mengambil joran, kami menggulung tali pada joran lain yang kosong. Senyum cerah terpampang di wajah kapten kapal kami yang kini secara perlahan mulai menurunkan tekanan gas. Sayang sebentar kemudian mimik wajahnya kembali muram.

Nun jauh di ujung tali, tampak jelas bahwa yang tersangkut bukanlah ikan, melainkan sampah plastik belaka. Segala sumpah serapah pun terdengar, terutama dari mulut teman yang tadi sempat memompa joran dengan semangat 45.

“Gila ya, sudah 10 mil dari Jakarta masih saja sampahnya seabrek-abrek,” keluh Edi Dermawan seolah tak percaya. “Halah kapal saya malah pernah dikurung sampah, sampai tak bisa mancing lagi gara-gara waktu habis sebentar-bentar propeller macet tersangkut sampah,” sahut Djoko Martadi.

Soal sampah yang mencemari perairan Teluk Jakarta sejak lama bukan menjadi keprihatinan Edi Dermawan saja, tapi juga bagi semua pecinta laut, termasuk para kapten kapal yang rutin membawa para turis berwisata ke Kepulauan Seribu. Penyebabnya selain banyaknya volume sampah yang dibuang setiap hari, juga masih maraknya kebiasaan buruk semacam membuang sampah ke selokan dan sungai.

Image
Sampah juga akibatkan air tercemar dan ikan-ikan mati
Konon, setiap hari Jakarta menghasilkan 6.000 ton sampah yang lebih dari setengahnya merupakan sampah anorganik termasuk plastik. Agar terdapat gambaran yang lebih jelas, sampah sebanyak itu dipastikan dapat menutupi areal seluas 2.600 kali lapangan bola!

Mengingat plastik yang dikubur dalam tanah sekalipun tidak akan terurai dalam waktu 500-1000 tahun, membuang sampah hanya di tempat sampah seharusnya menjadi sikap kita sehari-hari, termasuk ketika sedang mancing di sungai maupun laut. “Jangan asal main lempar deh... Apa masalahnya sih kalau sampah kapal dikumpulkan dulu baru dibuang ke tempat sampah di darat?” kata Edi.

Tinggal kemauan saja mungkin. Sebab, “Di semua kapal di Binuangeun sudah disediakan tempat sampah,” kata Ahmadi. Bukan itu saja, “Semua kapal juga sudah ditempel stiker “Save Our Ocean” untuk mengingatkan agar kita tidak membuang sampah sembarangan,” tambah awak KM. Robby ini.

Mengingat peliknya masalah sampah, terhadap siapa saja yang masih suka membuang sampah sembarangan tampaknya pantas dicap sebagai orang yang bodoh bin tolol. Setuju? (Mark)

  No Comments.
You need to login or register to post comments.
Discuss...
< Prev   Next >
 
Telaga Cibubur
Albecha
jackpot
Telaga Arwana
Damay
Telaga Cibubur
electrofish
Telaga Cibubur