| Yiew Tinggal Batu |
|
|
|
|
Di pulau yang letaknya di dalam peta Indonesia ibaratnya antah barantah ini pemancing akan kelelahan jika disuruh menghitung berapa banyak strike yang didapatkan dalam sehari mancing karena setiap popper dilemparkan ke dekat tebing-tebing batu itu predator macam GT dan barakuda pasti akan langsung menghajarnya dengan ganas. Dan ukuran ikan-ikan itu hampir tidak pernah ada yang under 10 kg. Selalu 10 kg ke atas hingga up 30 kg. Sekarang Pulau Yiew tinggal batu. Salah siapa? Pulau Yiew kini sunyi. Hanya debur perih ombak dan sesekali pekik burung merana karena burung-burung pun kini pun telah musnah dari sana. Pulau batu yang letaknya sekitar 35 mil laut dari Desa Sosolat, Kabupaten Halmahera Timur, Propinsi Maluku Utara kini tidak lagi segagah dahulu. Kini jika pemancing memancing ke sana yang terjadi adalah mereka akan kelelahan menghitung jumlah lemparan yang telah dilakukan. Dua hari memancing di Yiew kini belum tentu mendapatkan sambaran dari game fishes. Padahal jika dilihat dari letaknya yang jauh dari manapun dan kondisi geografisnya yang beautifuly dangerous itu mestinya Yiew adalah kerajaan GT yang harusnya terus abadi hingga dunia kiamat sekalipun. Tetapi ternyata kiamat itu datang lebih awal ke Yiew. Apakah ini karena kedatangan pemancing kondang kakak-beradik Rudi Hadikesuma dan Wahyu Tamaela ke sana pada tahun 2006 dan Maret 2008 lalu? Jelas bukan karena kita tahu pemancing kawakan ini sangat tinggi menjunjung prinsip C&R. Jawaban pada kondisi Yiew dapat kita telusuri dari kisah seorang Kepala Desa di Pulau Sayafi yang letaknya sekitar 10 mil di Selatan Pulau Yiew. Kepala Desa yang enggan dituliskan namanya ini memimpin sebuah desa yang sangat terpencil (jauh dari manapun dan hanya bisa diakses melalu laut!) dan jujur saja melihat kondisi desa dan penduduknya membuat air mata menetes saking terbelakangnya kondisinya. Dia mengkisahkan dengan pedih mengenai pembangunan sebuah pos dan menara pengawas dan juga pemasangan tanda-tanda kedaulatan NKRI di Pulau Yiew beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh aparat berseragam. “Mereka membangun pos di Yiew selama beberapa bulan. Dan mereka menggunakan “senjata” mereka untuk menghantam air di sekitar Yiew agar ikan-ikan mati sehingga bisa dijadikan lauk makan. Burung-burung pun habis ditembak dan diracun. Mereka taruh racun di air di karang yang diminum burung. Burung habis sudah,” katanya nanar.
Kenapa tidak dilarang? “Bagaimana bisa kami melarang. Kami ini penduduk yang tidak punya apa-apa. Mereka aparat, punya senjata.” Kenapa tidak dilaporkan saja ke polisi? “Pos polisi paling dekat dari desa ini paling dekat dua hari jauhnya jika menggunakan perahu-perahu kecil kami ini. Sampai di sana pun bisa jadi malah kami yang disalahkan nantinya. Kami ini tidak punya kuasa apa-apa.” Kiamat di Yiew semakin lengkap setelah pembangunan pos pengawas (yang hingga kini belum tentu ditempati oleh penjaga) dan tanda-tanda kedaulatan NKRI itu para pekerja yang bekerja ke sana yang kebanyakan orang luar Halmahera datang lagi dengan membawa armada kapal ikan yang menyapu bersih reef-reef dangkal di sekitarnya dengan cara-cara yang tidak terpuji yakni menggunakan bom ikan. Dan kondisi reef sekitar Yiew itu meminjam kata-kata abk saya yang bernama Peles “persis seperti lapangan bola” saking ratanya. Reef-reef itu hancur lebur! Kisah pendek ini sungguh tidak memerlukan applause seperti saat kita melihat para pahlawan lapangan hijau menjebol gawang lawan. Atau malah ada yang berniat memberikan applause pada pihak-pihak yang telah menyakiti Yiew-nya Halmahera dan Yiew Yiew yang lain di perairan negeri tercinta ini?(MR) |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|













