| C&R Tidak Harus Jika... |
|
|
|
|
Mancing di perairan terpencil selama berpuluh-puluh hari di Pulau Halmahera beberapa waktu lalu memberikan pencerahan tersendiri kepada salah satu awak MancingONLINE, khususnya terhadap aplikasi C&R yang lebih bijak. Saat itu sejumlah desa yang dikunjungi adalah desa yang saking terpencilnya menyebabkan BBM menjadi barang yang sangat langka dan mahal. Lantaran itu, sangat jarang warga desa mau melaut untuk menangkap ikan-ikan besar. Paling banter mereka mancing atau menjaring ikan-ikan kecil dari atas sampan kecil, atau malah cuma di tepian pantai, demi menghindari keharusan membeli minyak. Di Sosolat misalnya (untuk mengetahui letak dan kondisi desa ini baiknya Anda buka kembali edisi 9 Majalah Mancing), harga minyak tanah yang merupakan bahan bakar mesin tempel bisa mencapai 10 ribu rupiah per liter. Itu sebabnya saat awak kami mancing di sana banyak warga melamar menjadi ABK demi sekadar mendapatkan bagian daging ikan. Setiap kali habis mancing warga desa juga selalu berkerumun menjemput di dermaga sambil berharap mendapat bagian ikan-ikan itu. Walau mereka mau saja seandainya harus membayar, tentu tak mungkin hal tersebut dilakukan. Ikan-ikan yang didapat pun kemudian dipotong-potong dan dibagikan seadil mungkin ke seluruh warga secara gratis. Kejadian ini persis seperti saat tiga tahun lalu Wahyu Tamaela dan Rudy Hadikesuma mancing di tempat yang sama, yang sempat direkam dalam video dan video tersebut kemudian diedarkan melalui majalah. “Waaah seabreg-abreg orang komplain, katanya kita ngangkat ikan segitu banyak dan gak mau rilis,” ujar Wahyu seraya tertawa. “Mereka tidak tahu, waktu itu seluruh warga desa mengantri daging ikan itu sampai jam dua malam,” sahut Rudy. “Buat mereka ikan ibarat berkah. Apa tega kita mau rilis?” ujar Wahyu lagi. Bagi Wahyu dan Rudy, pengalaman di Sosolat bukan satu-satunya yang paling mengharukan. “Waktu mancing di Papua orang-orang kampung malah sampai jalan kaki seharian turun dari gunung sambil bawa ubi dan kacang-kacangan buat dibarter sama ikan,“ kata Rudy mengenang. “Kadang kasihan banget kalau lihat mereka akhirnya cuma kebagian ikan satu-dua potong saja karena kita kurang banyak dapat ikan.” Menurut Wahyu, “Kalau tidak ada tujuan tertentu kita sudah biasa rilis kok, tak terhitung lagi malah ikan besar kecil yang sudah dirilis.” Pernyataan Wahyu berikut sepertinya sangat menarik, “Kami bawa pulang ikan karena jelas-jelas banyak orang yang memang sangat butuh. Buat yang tidak tahu duduk persoalan sebenarnya sebaiknya jangan asal ngomong, apalagi kalau mereka sama sekali belum pernah melakukan rilis.” Jadi maksudnya, buat yang suka menguras laut lalu menjual hasilnya liwat restoran atau TPI, sebaiknya jangan lagi cuap-cuap encourage C&R ya?(MR) |
|
C&R Tidak Harus Jika...
Aug 03 2009 08:43:59 ** This thread discusses the Content article: C&R Tidak Harus Jika... **
Bener bgt.. gw setuju kapan C&R dapat kita lakukan, krn pada dasarnya ikan itu adalah rezki untuk umat manusia sekaligus wajib kita konservasi. kita akan lebih terharu melihat penduduk senang mendapatkan ikan dibanding merilease, dan kita jg lebih terharu melihat pemancing pemula yg bisa merelaese ikan. salam strike.. |
#182 |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|












