Advertisement
Penguasa-penguasa Sungai Halmahera Utara (Bagian Pertama) PDF Print E-mail

Image
Talang-talang pun masuk sungai (Foto Michael Risdianto)

Rencananya kami hendak menelusuri keberadaan somasi. Ternyata kami pun juga disambut hangat oleh poparo dan bobara!!

Selama Ekspedisi Halmahera beberapa waktu lalu (liputan lengkap ekspedisi ini dimuat di Majalah Mancing) anggota ekspedisi terutama kakak beradik Wahyu dan Rudy serta Markus FORMASI dengan ditemani beberapa pemancing Tobelo seperti Desay, Toni, dan Eni menghabiskan jadwal istirahat “melaut” dengan “main” ke sungai. Badan boleh istirahat dari berkeliling laut, tapi acara mancing tidak boleh terhenti. Begitu pikir mereka. Jadi aktivitas mancing di sungai yang tidak terlalu menguras energi itu menjadi pilihan tepat di sela-sela jadwal ekspedisi laut yang padat tersebut. Hasilnya sungguh mencengangkan. Berbagai spesies yang tidak pernah terbayang sebelumnya menyambut “hangat” kedatangan kami.

Sebelum kami turun ke sungai kami menghimpun informasi dari berbagai sumber. Baik dari warga Tobelo ataupun pemancing-pemancing setempat. Staff hotel tempat kami menginap pun tak luput dari pertanyaan kami. Gambaran umum yang mereka berikan adalah bahwa di sungai-sungai itu ada spesies payau yang dalam bahasa Tobelo disebut somasi. Setelah kami telusuri somasi ini ternyata adalah bahasa setempat untuk menyebut keluarga barra. Somasi merah adalah sebutan untuk mangrove jack. Somasi kuning atau somasi hitam bekuning untuk black bass. Somasi putih untuk barramundi. Mendengar info menarik ini tentu kami menjadi semakin bersemangat menelusuri lebih jauh eksistensi spesies-spesies tersebut.

Image
Lure kasting yang kami bawa (Foto Michael Risdianto)

Tapi hasrat kami untuk turun ke sungai ini sebenarnya telah mendapatkan “tantangan” karena mereka juga memberi informasi menggelisahkan bahwa sungai-sungai di wilayah tersebut tidak luput dari bom ikan dan juga potas. Tapi sebuah ekspedisi mancing bukanlah perjalanan yang bisa disurutkan semangatnya begitu saja. Meski kami sangat memahami bahwa bom ikan dan potas dapat dikatakan menjadi budaya di sini, kami tetap membulatkan tekad untuk turun ke sungai. Tidak mungkin semua area sungai juga dihantam “kejahatan” itu.

Sungai pertama yang kami kunjungi adalah Sungai Daru dekat Teluk Kao. Sekitar 1 jam (jika melalui jalan darat) di selatan Tobelo. Sungai ini dilalui oleh jalan raya trans Halmahera Utara. Jembatan yang melintas sungai ini terletak persis beberapa jengkal sebelum sungai ini bertemu air laut Teluk Kao. Sangat mudah untuk mencapai sungai ini. Perahu kecil untuk masuk ke sungai ini pun mudah didapatkan karena Kampung Daru yang berada di utara sungai ini adalah sebuah kampung nelayan yang banyak perahunya. Pagi itu kami memilih sebuah perahu kecil yang direkomendasikan oleh Kepala Desa Daru.

Sebenarnya perahu kami hari itu agak kurang ideal mengingat mesin yang terpasang adalah mesin tempel 40 PK. Terlalu berisik untuk Sungai Daru yang dangkal dan lebarnya hanya sekitar 10-15 meter. Apalagi mesin tempelnya sudah agak tua jadi suaranya tidak “sexy” lagi. Tapi karena rombongan kami pagi itu cukup banyak jumlahnya maka perahu ukuran sekitar 10X1,5 meter itu pun kami sewa dengan gembira.

Sungai Daru tampak sangat meyakinkan jika diamati bagian yang dekat muara dan terlihat berpotensi dihuni ikan-ikan yang siap melahap umpan-umpan kasting kami, tetapi ternyata setelah kami masuk ke dalam sampai mentok areal yang berbatu dan sangat dangkal strike yang ada hanyalah dari dua somasi merah ukuran mungil yang didapatkan oleh Desay dan Markus dengan cara trolling. Lagi, kami menjadi kembali terlibat pembicaraan hangat tentang bom dan potas.(Bersambung)

  No Comments.
You need to login or register to post comments.
Discuss...
< Prev   Next >
 
Telaga Cibubur
Albecha
jackpot
Telaga Arwana
Damay
Telaga Cibubur
electrofish
Telaga Cibubur