Advertisement
Menanti GT di Menganti PDF Print E-mail

Image
Pokan atau GT yang saya peroleh di Karang Menganti (Foto oleh Arif)

Suatu sore saya sedang membaca Majalah Mancing sambil melamun karena sudah beberapa bulan tinggal di Jakarta dan tidak pernah merasakan sensasi strike,maklumlah namanya juga orang kecil jadi kalo ingin mancing GT di laut daerah Jakarta pasti butuh dana yang tidak sedikit, jadi saya hanya bisa baca Majalah Mancing sambil membayangkan nikmatnya ketika berteriak dan merasakan sensasi STRIKE.

Ketika saya sedang terhanyut dalam khayalan strike itu tiba-tiba saya dikagetkan oleh bunyi ponsel saya yang nyaring. Seketika saya ambil dan saya buka MMS yang dikirim saudara sekaligus teman mancing saya bernama Gotri. "Bro pokan lagi nyerang nih, cepetan pulang.” Pokan adalah nama lain GT di daerah kami, sedangkan nyerang adalah istilah untuk rombongan ikan yang datang kepinggiran laut atau karang ketika berburu mangsa.

Seketika itu pula hati saya gelisah apalagi melihat gambar GT yang berhasil didapatkan, berarti benar memang sang GT sedang musim dan bersedia mampir di Karang Menganti. Malam itu saya susah sekali tidur, memang benar rindu ingin mancing bikin orang susah tidur. Akhirnya esok hari saya putuskan untuk pulang ke kampung halaman saya di

Pantai Logending dekat Gombong, Jawa Tengah. Saya berangkat dari Stasiun Senen dan turun di Stasiun Gombong. Setibanya di sana saya dijemput Ayah saya yang hobi mancing juga, jadi dalam perjalanan dari Gombong tak henti-hentinya beliau bercerita tentang trip mancing beberapa hari yang lalu.Tak sabar rasa hati ini menanti saat trip ke Karang Menganti.

Setibanya dirumah saya langsung istirahat dan tidur. Rencananya kami bertiga (saya, Gotri& Ayah saya) akan berangkat mancing ke Karang Menganti nanti sore karena biasanya waktu makan GT adalah sore menjelang maghrib dan pagi menjelang subuh. Saya bangun pukul dua sore dan kemudian mempersiapkan peralatan tempur saya. Akhirnya pukul setengah empat sore kami berangkat menuju Karang Menganti yang berjarak sekitar satu jam dari Pantai Logending. Setibanya disana jam empat sore. Tanpa dikomando kami langsung memasang peralatan casting. Di tempat kami masih jarang yang menggunakan teknik popping, hanya teknik casting yang paling populer.Terkadang malah masih banyak yang casting dengan umpan buatan pemancing itu sendiri bukan umpan buatan pabrik yang banyak dijual di toko-toko itu.

Sayapun langsung melempar umpan dari atas batu karang ke tengah laut, sedangkan ayah saya dan Gotri hanya menunggu dan memperhatikan saya. Saya memakai umpan casting berwarna merah putih. Sudah sekitar tiga puluh menit saya duduk di atas batu sambil menunggu waktu makan sang pokan sembari sesekali melempar umpan ke laut.Waktu itu laut memang sedang tidak bersahabat, ombak tak henti-hentinya menghantam keras ke arah batu karang yang kami tempati, suaranya begitu keras seakan mengisyaratkan agar kami pulang. Tapi saya tidak menyerah, sekitar pukul lima kurang lima belas menit umpan saya disambar juga. STRIKE!!! Setelah melakulan perlawanan akhirnya GT pertama berhasil dinaikan dengan berat sekitar 5 kg. Ternyata treble pancing saya menancap di mulut melainkan nyangkut dimata sang GT.

Karena tahu GT sudah mulai makan, ayah saya dan Gotri langsung berlomba melemparkan umpan mereka, tapi mereka belum disambar malah reel saya kembali berderit dan joranpun melengkung. STRIKE!!! Ayah saya dan Gotri memandangi saya seperti sedikit kesal. Sang GT pun melawan. Saya melayani perlawanan sang pokan dengan hati-hati karena takut tali senar terkena batu dan ombak yang terus menghantam batu karang. Kemudian GT kembali saya naikan. Sekarang giliran Gotri yang strike. Diapun fight dan ikan sudah terlihat tapi sayang karena kurang hati-hati dan tidak memperhatikan datangnya ombak, talipun tersangkut karang dan putus. Ayah sayapun sudah mendapatkan dua kali sambaran tetapi treblenya kurang menancap dengan sempurna dan ikan berhasil lepas. Baru pada sambaran ketiga ikan berhasil diangkat.

Saat ayah saya sedang fight ternyata Gotri juga sempat fight setelah sekitar sepuluh menit tetapi tali senar putus lagi. Mungkin ikan terlalu kuat karna karena sepertinya tidak terkena batu karang. Tapi tampaknya Dewi Fortuna masih berpihak karena setelah dia ganti umpan dan melempar kembali langsung disambut sang pokan dan kali ini bisa diselesaikan dengan baik.

Sementara saya terus melempar, ayah saya berhasil strike dan dan kemenanganpun ada di pihak ayah saya. Hari semakin sore mungkin sekitar pukul enam ombak rasanya semakin keras terdengar menghantam karang dan biasanya GT sudah malas makan akhirnya kami memutuskan untuk mengahiri trip kali ini. Total GT yang didapat adalah lima ekor. Saya dua, ayah dua, dan Gotri satu. Rata-rata berat ikan adalah empat sampai lima kiloan, sedangkan untuk record GT yang terberat pada musim tahun ini di Karang Menganti adalah 25 kg atas nama Amad.

Mungkin bagi sebagian orang menganggap enteng GT yang kami dapat. Tapi menurut saya belum tentu orang itu bisa mancing dengan cara yang kami lakukan. Saya hanya menggunakan peralatan sederhana dengan tali mono bukan dengan PE. Belum lagi kondisi alam tempat kami memancing sangat rawan terhadap tali dengan sekali hantaman ombak saja, jika kita tidak hati-hati maka tali senar kita akan diiris oleh karang yang tajam. Waktu melakukan lemparanpun harus ekstra hati-hati karena kita harus selalu waspada terhadap datangnya ombak jika tidak ingin diguyur. Dan lebih parah lagi terseret dan terjatuh ke karang. Jadi kita harus melempar ketika ombak mundur kemudian mundur ketika ombak datang. Begitulah sekilas gambaran saat musim GT di menganti. Salam strike dari Menganti!(Arif dari Logending-Jawa Tengah)

  No Comments.
You need to login or register to post comments.
Discuss...
< Prev   Next >
 
Telaga Cibubur
Albecha
jackpot
Telaga Arwana
Damay
Telaga Cibubur
electrofish
Telaga Cibubur