| Marlin 150 Kilogram Hooked On Metal Jig |
|
|
|
![]() Setelah hampir 3 jam bertarung, ikan marlin pun menyerah (Foto oleh Michael Risdianto) Tim Bertubi Tubi adalah nama dadakan yang diusulkan oleh Wahyu Tamaela untuk digunakan sebagai nama tim. Ide ini muncul karena banyolan (humor) segar serta semangat luar biasa dari Freddy (56 tahun), anggota tertua dalam ekspedisi ini. Sebentar-sebentar Freddy ini selalu menyebut “Wah bertubi-tubi banget ya ikannya” saat kami sedang popping GT. Maka jadilah tim ini dinamakan Tim Bertubi Tubi. Tim terdiri dari reporter kami Michael Risdianto, Bayu Noer Rachman dan Gilang Gumilang (Trans 7), Rudi Hadikesuma dan Wahyu Tamaela (Dream Zone Surabaya/Bali), Santoso (Surabaya) dan Freddy (Tuban). Mereka tiba di Banda Aceh pada tanggal 12 Februari dan langsung menuju basecamp ekspedisi di Desa Iboih, Pulau Weh. Pulau Weh berada persis di depan ujung barat daya Pulau Sumatera. Dari Banda Aceh, dapat ditempuh dengan kapal cepat selama 40 menit. Sedangkan Desa Iboih adalah desa kecil nan indah yang merupakan salah satu pusat berkumpulnya para turis diving dari berbagai negara. Desa ini terletak di 8 kilometer sebelum Kilometer Nol Republik Indonesia. Ekspedisi ini sekaligus merupakan fishing trip pertama dari para pemancing luar daerah Aceh sebagai bentuk respon dimuatnya liputan potensi mancing di Tanah Nanggroe di Majalah Mancing edisi Februari 2009 hasil liputan reporter kami pada bulan Desember 2008. Hasil dari trip Tim Bertubi Tubi ini malah lebih luar biasa dibandingkan dengan perjalanan reporter kami sebelumnya karena selama 5 hari memancing selain berhasil memancing giant trevally besar di atas 40 kg dalam jumlah banyak (semua dirilis), Tim Bertubi Tubi juga berhasil memancing seekor marlin dengan perkiraan berat 150 kg pada hari terakhir ekspedisi. Uniknya ikan marlin ini bukan menyambar umpan trolling ataupun umpan koncer, melainkan menyambar metal jig milik Bayu Noer Rachman saat kami sedang jigging di sebuag spot dogtooth tuna. Diperlukan waktu sekitar 2.5 jam (catatan waktu momen-momen yang terekam di kamera video) untuk menaklukkan ikan marlin ini karena piranti yang digunakan oleh Bayu hanyalah piranti jigging kelas medium. Rod HOTS Fake Lez 50H, Stella 8000, benang PE4 (itupun hanya 300 meter panjangnya), dan leader monofilamen 80 lbs. Namun berkat kerjasama yang solid dari seluruh tim dan kru KM. Dian Sabang, ikan yang dalam bahasa Aceh disebut thuk ini akhirnya berhasil ditaklukkan. Sungguh sebuah kenangan tak terlupakan bagi seluruh tim terutama bagi Bayu Noer Rachman karena berhasil memancing marlin di perairan yang sudah berbatasan dengan negara lain. Sayangnya karena terlalu lama fight, ikan marlin ini keburu terlalu lemas saat berada di dekat kapal sehingga dengan pertimbangan takut mati kalau direlease maka ikan tidak di Cn’R. Nantikan selalu laporan lengkap ekspedisi ini di Majalah Mancing. Jangan lupa juga simak selalu program Mancing Mania di Trans 7 untuk menyaksikan detik-detik menegangkan memancing marlin 150 kg dengan piranti jigging. Atau Anda tidak sabar lagi dan langsung ingin berangkat ke Pulau Weh untuk memancing sendiri? Silahkan!(MancingOnline.Com) |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|












