| Cover Majalah Mancing Edisi 18 Adalah Mimpi Yang Menjadi Nyata |
|
|
|
![]() Om Amo menunjukkan kepada saya foto ikan black marlin hasil mancingnya tahun 1985 saat kami bertemu di Banda Aceh (Foto oleh Michael Risdianto) Majalah Mancing edisi 18 yang hari ini mulai didistribusikan ke seluruh Indonesia untuk menyapa pembaca setia kami memiliki kisah yang menarik. Dimulai pada bulan Desember 2008 saat saya melakukan ekspedisi selama dua minggu ke perairan Aceh. Tepatnya ke perairan sekitar Pulau Rondo, 16 mil dari Pulau Weh. Pada ekspedisi itu saya mendapatkan dukungan penuh dari kawan-kawan FCAK Banda Aceh. Hasil dari ekspedisi “rintisan” tersebut telah dimuat secara besar-besaran di edisi 17 dan merupakan tonggak pertama liputan mancing dari Tanah Nanggroe yang pernah ada di media. Pada hari terakhir sebelum saya kembali ke Jakarta saya dijamu oleh kawan-kawan FCAK di Kafe Bohnen, Banda Aceh. Saat itu tiba-tiba ayah dari Amin FCAK yang bernama Pak Amo ikut bergabung dan menunjukkan foto-foto ikan black marlin yang dia pancing pada tahun 1985. Tahun dimana saya saat itu baru berumur 7 tahun dan baru saya menginjak bangku SD. ![]() Data foto yang dituliskan oleh Om Amo di belakang foto. (Foto oleh Michael Risdianto) Saya terkesan sekali dengan ikan black marlin yang ditunjukkan oleh Pak Amo itu, saya memanggilnya Om Amo, dan secara wajar saya kemudian berkata kepadanya bahwa saya akan kembali untuk mendapatkan ikan itu. Pak Amo sangat antusias dan minta diajak memburu marlin saat saya kembali lagi ke Aceh. Setelah mendapatkan tim dari Jawa yang terdiri dari kru Mancing Mania Trans 7 (Bayu dan Gilang) serta pemancing-pemancing asal Surabaya (Wahyu, Rudi, Santoso dan Freddy) saya pun kembali ke Aceh pada Februari 2009. Target utama kami adalah monster GT dengan teknik popping dan atau dogtooth tuna dengan teknik jigging. Om Amo urung ikut ekspedisi kedua saya ini dan tetap tinggal di Banda Aceh karena sibuk. ![]() Mimpi yang menjadi nyata jatuh ke tangan Bayu Noer Rachman, kru Mancing Mania Trans 7. (Foto oleh Michael Risdianto) Tak dinyana ternyata harapan saya yang pernah terlintas pada Desember 2008 ternyata menjadi kenyataan. Saat kami sedang jigging memburu dogtooth tuna salah satu anggota tim ekspedisi kami, Bayu, malah mendapatkan sambaran dari black marlin raksasa, 150 kg. Pertarungan melawan black marlin raksasa dengan piranti jigging kelas PE4 ini telah ditayangkan di Trans 7 beberapa waktu lalu dan membuat heboh dunia mancing Indonesia karena memang sangat langka seekor ikan black marlin menyambar metal jig (umpan jigging). Sudah kejadian langka ikannya pun sangat besar. Lengkap sudah sensasinya. Mimpi yang menjadi nyata, begitulah saya menyebutnya. Tidak masalah siapa yang mendapatkannya karena saat kita bertemu ikan marlin maka kerjasama tim lah yang menentukan berhasil tidaknya kita mengalahkannya. Sebagai bagian tim ekspedisi saat itu saya tentu sangat gembira seperti dirasakan oleh seluruh tim saat itu. Dan saya juga berharap semoga Om Amo ikut bergembira karena hal ini, black marlin Aceh di kover Majalah Mancing. Tulisan ini saya hamparkan di website mancing kita ini teriring salam kepadanya dan semoga Om Amo juga bisa ikut membacanya dengan senyum.(Michael Risdianto/MancingOnline.Com) |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|














