| Apa Kabar Ujung Kulon? |
|
|
|
![]() Owner Boogie Advindo, Anas, dan staff Boogie Sandi Taruni untuk pertama kalinya bersentuhan dengan saltwater game fish spesies kuwe rambut (Alectis spp). (Foto oleh Michael Risdianto) Majalah Mancing sedang merancang sebuah fishing video mengenai kondisi terkini destinasi mancing Ujung Kulon. Seperti kita ketahui bersama, perairan di ujung barat Pulau Jawa ini pernah menjadi destinasi mancing paling potensial di negeri kita. Namun lambat laun fishing ground ini agak meredup karena ‘kalah’ bersaing (akibat potensinya meredup) dengan spot baru di berbagai daerah terutama di Indonesia Timur. Namun tetap saja Ujung Kulon tidak boleh disepelekan. Terutama untuk aplikasi popping dan bottom fishing, Ujung Kulon masih merupakan sebuah destinasi mancing yang bisa membuat adrenalin kita terkuras hingga tandas. ![]() Masra tertawa lebar usai menaklukan tenggiri besar di spot bottom fishing di dekat Kr. Copong (Foto koleksi MKFT) Perairan di Ujung Kulon sebenarnya sangat memungkinkan untuk dijadikan medan aplikasi berbagai teknik mancing. Light tackle casting, fly fishing, trolling, bottom fishing dan bahkan jigging. Tidak populer memang namun jigging sangat bisa untuk diaplikasikan di sana, setidaknya demikian pernah dibuktikan oleh sekelompok pemancing asal Bekasi. Trolling pernah menjadi teknik mancing yang paling populer dilakukan saat mancing di sini, namun seiring sulitnya mencari marlin di sana, teknik ini kini semakin jarang diaplikasikan oleh pemancing. Teknik mancing trolling kini lebih dijadikan sebagai pelengkap perjalanan, diaplikasikan untuk memaksimalkan waktu saat pemancing berpindah spot popping ataupun bottom fishing (dua teknik inilah yang sekarang paling sering diaplikasikan oleh pemancing di Ujung Kulon). ![]() Anto usai menaklukkan GT di sebuah spot popping. Only at Ujung Kulon when angler became a star! (Foto oleh Michael Risdianto) Tahun 2005 ketika teknik popping mulai populer di Indonesia, Ujung Kulon adalah salah satu destinasi yang paling banyak disasar oleh pemancing popping karena perairan ini memiliki banyak sekali spot yang memungkinkan diaplikasikannya teknik tersebut. Tanjung Alang-alang, Tanjung Senini, Kr. Copong, Kr. Jajar, Tanjung Layar, Batu Asin hanyalah beberapa nama yang populer di sana untuk aplikasi popping. Masih banyak lagi spot yang lainnya. ![]() Beberapa saat sebelum GT hasil pancingan Priyatno ini dilepaskan kembali ke laut. (Foto oleh Michael Risdianto) Dari semua ‘serbuan’ pemancing popping itu hanya sebagian kecil saja yang mengaplikasikan catch and release ataupun bag limit (jumlah ikan yang dibawa pulang dalam takaran tertentu) sehingga dengan cepat populasi ikan predator terutama giant trevally menyusut dengan pasti. Popping bukan satu-satunya penyebab menyusutnya populasi giant trevally di Ujung Kulon karena banyak juga penggemar teknik mancing lain yang tidak peduli konservasi. Selain itu juga masih ada nelayan yang selalu hanya berorientasi pada hasil menangkap ikan sebanyak mungkin tanpa peduli pada konservasi. ![]() Saya membuktikan sendiri bahwa Ujung Kulon masih mampu menyajikan sensasi mancing yang maksimal. (Foto oleh Sandi Taruni) Kini, berdasarkan beberapa kali fishing trip ke Ujung Kulon dalam setengah tahun terakhir ini, saya melihat hanya popping dan bottom fishing populer yang diaplikasikan oleh pemancing. Selebihnya adalah koncer, fly fishing (sangat jarang namun ada saja yang melakukan di sana terutama di Pulau Peucang), kemudian light tackle casting dan terakhir adalah mancing ikan baronang di Pulau Panaitan. Dari semua teknik tersebut tanpa bermaksud memvonis (karena memang terkadang catch and release tidak semudah dibayangkan penerapannya), popping, bottom fishing dan koncer mungkin adalah teknik mancing yang paling banyak ‘menyumbang’ pada ‘terangkatnya’ game fish ke kapal mancing (dan sebagian besar diantaranya kemudian mati). ![]() Sunset dilihat dari salah satu sudut di Karang Jajar. Karang jajar adalah spot popping paling menggetarkan di Ujung Kulon (Foto oleh Michael Risdianto) Beberapa fishing trip yang diikuti oleh kru Majalah Mancing dalam setengah tahun terakhir inilah yang nantinya akan dimasukkan dalam sebuah video mancing kompilasi yang dikemas menarik. Diharapkan ini menjadi dokumentasi visual yang bisa membantu pemancing untuk memahami potensi terkini Ujung Kulon sehingga para pemancing, terutama yang belum mengenalnya, bisa mengambil langkah terbaik saat memancing di sana. Gambaran singkatnya adalah bahwa ternyata Ujung Kulon still dangerously beautiful fishing ground (karena terbukti masih ikan pancingan yang siap menantang ketangguhan tackle dan menguji penguasaan teknik mancing kita) meski memang ada beberapa catatan penting yang harus sangat diperhatikan oleh pemancing jika ingin sukses memancing ke sana. Intinya Ujung Kulon masih dapat dikatakan “mempesona”. Jadi, jangan lewatkan video dokumentasi spesial yang akan dirilis di Majalah Mancing edisi 20 nanti. Salam!(Michael Risdianto/MancingOnline.Com) |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|

















