Advertisement
Kepulauan Seribu Cerah Setelah Berbenah PDF Print E-mail

Image
Rehabilitasi pesisir pantai di Pulau Pramuka (Michael Risdianto)
Sempat menjadi primadona para pemancing pada era 70 hingga 90-an, Kepulauan Seribu yang dalam beberapa tahun terakhir lebih didominasi gelak para wisatawan, berita rusaknya lingkungan, dan jeritan perih para nelayan, kini masyarakatnya tengah sibuk berbenah. Kepulauan Seribu dulu memang merupakan tujuan favorit para pemancing ibukota. Selain dekat, kawasan wisata berjarak sekitar 45 km di utara Jakarta itu memiliki deposit ikan pancingan yang melimpah dan beragam.

Tak hanya tenggiri, tetapi juga kakap merah, kerapu, kuwe, wakung sawo, bambangan, dan masih banyak lagi lainnya. Selain para pemancing setiap Sabtu dan Minggu, mancing ikan juga rutin dilakukan oleh nelayan setempat. Walau ada di antara mereka yang membudidayakan rumput laut, namun kebanyakan menjadikan menangkap ikan sebagai mata pencaharian utama. Awalnya mereka cuma memakai alat-alat pancing sederhana, tetapi selanjutnya jaring dan pukat harimau, bahkan bom pun dimanfaatkan untuk tujuan yang sama. Dalam waktu singkat, kandungan ikan di Kepulauan Seribu susut secara drastis.

M. Suradi, nelayan Pulau Panggang yang biasa mancing tenggiri mengungkapkan, kini ia sangat kesulitan mendapat ikan. “Dulu sekali mancing memang bisa dapat sampai sekuintal. Sekarang mah boro-boro deh.. Tambahan lagi solar sangat mahal,” ucapnya. Data TPI Muara Angke Juli 2007 menyebutkan, hasil tangkapan nelayan kini memang tinggal 5 ton per hari dengan nilai sekitar 42 juta. Jelas turun sangat jauh, karena sebelumnya rata-rata bisa mencapai 40 ton atau senilai 336 juta.

Menurut Rudy Anyan, seorang kian majunya teknologi penangkapan ikan dan sportfishing yang tidak dibarengi dengan kesadaran melestarikan lingkungan oleh para penggunanya bertanggung jawab terhadap permasalahan yang timbul saat ini. “Ditambah dengan banyaknya sampah, wajar sekarang susah dapat ikan walau sudah mancing di tengah,” tuturnya. Musibah tumpahnya minyak pada Oktober 2004 disinyalir kian memperburuk keadaan. Dikuatirkan, pengotoran jaring budidaya yang membuat turunnya produktivitas ikan itu bakal menurunkan minat masyarakat nelayan, sehingga mereka kembali mencari ikan dengan bom dan racun.

Budidaya dan Rehabilitasi
Menurut Ir. Sumarto, MM, Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (BTNKpS) menggunakan strategi khusus untuk memasyarakatkan program konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. “Kami melakukan konservasi dengan kegiatan yang seolah-olah hanya kegiatan ekonomi, padahal sebenarnya kegiatan konservasi. Seperti budidaya ikan hias, karang hias, ikan konsumsi dan juga rehabilitasi terumbu karang,” tutur Kepala BTNKpS ini. Ditambahkan, masyarakat sangat antusias melaksanakan program tersebut. “Bahkan hasil budidaya mereka telah diekspor,” ucapnya lagi. Hasilnya, perekonomian masyarakat Kepulauan Seribu normal dan ekosistem laut dangkal pun berangsur membaik. Ir. Sumarto yakin, membaiknya ekosistem di perairan dangkal akan membuat deposit ikan di perairan yang lebih dalam kembali memiliki masa depan. Sebab, “Membaiknya ekosistem menjamin hidupnya ikan-ikan kecil, yang lebih lanjut akan mengundang datangnya ikan-ikan besar,” jelasnya. Meski demikian ia berharap para pegiat sportfishing mau terlibat secara aktif dalam upaya konservasi laut. Mulainya dari yang sepele-sepele saja, misalnya tidak membuang sampah sembarangan dan memperhatikan tempat melego jangkar. Nah lo…! ***

Akses Menuju Pulau Seribu
Para pemancing yang berminat mancing ke Kepulauan Seribu dapat menyewa perahu di Tanjung Pasir, Tanjung Kait, Muara Kamal, Muara Karang, Muara Baru, Muara Angke dan Cilincing. Tanjung Pasir terletak di Desa Teluk Naga, sekitar 20-an kilometer utara Tangerang. Dari Tanjung Pasir gugusan pulau di Kepulauan Seribu sudah dapat terlihat dengan indahnya. Sedangkan Tanjung Kait terletak di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, juga di Tangerang. Muara Karang terletak di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Demikian pula Muara Kamal, Muara Baru, dan Cilincing sama-sama berada di bilangan Jakarta Utara.

Harga sewa perahu di tempat-tempat tersebut di atas bervariasi, tergantung pada jenis perahu ataupun lamanya mancing. Tetapi rata-rata mulai dari 600-an ribu per hari. Pemancing juga bisa menyewa speedboat di Pantai Marina Ancol ataupun Pantai Mutiara, tapi sewanya lebih mahal, mulai dari 5-6 jutaan. Biaya sewa bisa ditekan bila menyewa perahu nelayan langsung di 'lapangan'. Konsekuensinya keberangkatan ke Kepulauan Seribu harus dilakukan dengan kapal ojek antar pulau yang rata-rata berkapasitas 50-60 orang. Di Pasar Ikan Muara Angke Penjaringan Jakarta Utara, setiap hari pukul 06.30 kapal ojek berangkat dari Muara Angke ke Pulau Pramuka dan dari Pulau Pramuka ke Muara Angke. Lama perjalanan sekitar 2,5 jam dan tarifnya 40 ribuan.

Bisa juga menumpang speed boat milik Pulau Sepa yang berangkat ke Pulau Pramuka tiap pukul 08.00 dari di Dermaga 19 Marina Ancol, dan pulang dari Pulau Pramuka setiap pukul 14.00, namun Anda perlu reservasi minimal dua hari sebelumnya. Alternatif lain dengan Transjakarta KM Lumba-Lumba atau KM. Kerapu dari Dermaga 20 Marina Ancol. Setiap hari kedua kapal tersebut berangkat ke Pulau Pramuka pukul 08.00 dan kembali lagi pukul 15.00. Jika tak ingin buru-buru, Anda bisa menumpang ferry KMP Betok I atau KMP Betok II. Kapal berkapasitas 117 penumpang milik Pemkab. Kepulauan Seribu ini melayani rute Muara Baru – Pulau Tidung – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa PP. Berangkat dari dan ke Pelabuhan Muara Baru setiap Rabu dan Sabtu pukul 08.00 dengan lama perjalanan 4-5 jam.(MR)


  No Comments.
You need to login or register to post comments.
Discuss...
< Prev
 
Telaga Cibubur
Albecha
jackpot
Telaga Arwana
Damay
Telaga Cibubur
electrofish
Telaga Cibubur