| Ikut-ikutan Turnamen Mancing di Kupang |
|
|
|
|
Mungkin suasana hati setiap pemancing yang sedang merancang suatu trip mancing adalah sama adanya. Memilih peralatan yang mau dibawa, memilih umpan buatan yang akan dipakai, mengasah pancing, melamun menarik ikan besar…. Hanya bedanya, untuk saya selalu ditambah dengan suatu perasaan akan keengganan untuk berhadapan dengan kondisi yang tidak enak seperti misalnya, panas dan lelah akibat terombang-ambing di atas kapal. Perasaan seperti itu selalu muncul setiap akan berangkat mancing walaupun selalu terkalahkan dengan keinginan untuk mencari pengalaman baru disamping mengajar ikan besar.
Apalagi trip kali ini adalah ke Kupang, ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terletak di Pulau Timor sebelah Barat. Saya membayangkan keadaannya tentu tidak akan berbeda jauh dengan kota Labuan Bajo di Pulau Flores. Gersang dan panas di daratan yang tidak berpohon, tapi punya laut yang menyimpan berjuta-juta ikan pancingan favorit pemancing. Kenyataannya ya memang seperti itu, kecuali bahwa kota Kupang ternyata lebih ramai dan tidak bisa dibandingkan dengan Labuan Bajo yang hanya ibu kota kabupaten saja. Kota ini seluas kota Bandung, berbukit dengan pusat kegiatan yang terpencar, sehingga tidak mengakibatkan macet akibat konsentrasi kendaraan di suatu daerah tertentu. Kupang bisa dicapai dari Jakarta, Surabaya atau Denpasar. Maskapai penerbangan Merpati, Lion Air dan Sriwijaya Air melayani rute-rute ini. Pada saat peak season tiket dari Jakarta sekitar dua juta rupiah pergi-pulang sementara dari Denpasar satu juta pergi-pulang. Kelebihan bagasi akibat peralatan pancing biasanya masih bisa ditolerir oleh pihak maskapai asalkan tidak lebih dari 10 kilo. “Kalau lebih artinya Bapak bukan mau olahraga, tapi mau dagang..,” kata gadis konter yang penampilannya cukup membuat mata lebih bergairah di subuh pukul 05.55 itu. Dengan kata lain, Anda harus bayar biaya kelebihan bagasi yang cukup untuk membeli lima liter bensin per kilogramnya. Taksi dari Bandara El Tari ke kota bertarif Rp 40 sampai 50 ribu, lumayan baik kondisinya. Sepanjang perjalanan dari bandara ke kota yang berjarak sekitar enam kilo, sudah nampak beberapa padang yang kering. Memang pulau Timor termasuk daerah yang disebut semi arid, beriklim tropis dan kering. Walaupun panas kita tidak mudah berkeringat. Tidak ada pepohonan, yang ada hanya stepa dan savana, belum jadi gurun tapi sudah mirip-mirip. Debu tidak separah seperti di kawasan Mangga Dua Jakarta, karena kendaraan tidak begitu banyak. Banyak mobil kelas menengah keluaran baru berlalu lalang di jalan, menandakan Kupang cukup makmur penduduknya, kelas menengahnya cukup banyak. Makanan setempat yang terkenal adalah sei (dibaca: se i), yakni daging sapi asap. Cuma jangan dibayangkan bahwa daging ini sudah siap disantap. Sei masih perlu diolah lebih lanjut untuk dibuat berbagai masakan. Hawa malam hari di Minggu ketiga Oktober itu tidak panas dan angin kering bertiup dari arah Tenggara, sehingga terasa menyejukkan. Kehidupan malamnya cukup ramai, apalagi waktu itu Jumat malam. Tempat-tempat makan ramai dipenuhi orang, mal penuh pengunjung. Di mal yang sekaligus pasar swalayan hingar-bingar oleh musik hip-hop yang dilantunkan penyanyi lokal. Asik memang, walau bahasanya cuma dapat kita mengerti 50% saja. Saya kira hal ini sangat logis karena bahasa percakapan di sana memang biasa didiskon 50%. Misalnya kata saya cuma dilafalkan sebagai sa dan pergi jadi pi. Jadi kalau ada yang bilang ”Sa pi mandi,” maksudnya adalah ia hendak mandi. Hotel di Kupang juga cukup banyak tersedia, AC nya dingin, bersih dan terawat baik. Ada Hotel Kristal di pinggir pantai, ada Hotel Sasando yang dikenal dengan pub dan karaokenya, ada Hotel Sylvia dengan embel-embel family hotel. Dua hotel pertama taripnya sekitar Rp 380.000 net per malam dan yang terakhir Rp 275.000 net per malam. Semuanya termasuk makan pagi. Hotel Sasando memiliki fasilitas pijat di dalam kompleks hotelnya, yang masih tutup sampai seminggu usai lebaran. Karena semua pemijatnya diimpor dari Pulau Jawa. Di Hotel Sylvia terdapat massage service juga, sayangnya hanya ada satu orang yang saat itu sedang cuti pula… Di Kupang saya dijemput oleh Josef Siantari, orang Kupang kelahiran Jayapura. Beliau adalah Pegawai Negeri Sipil di Kupang, sekaligus Ketua FORMASI NTT. Pada tahun 1995, beliau bersama FORMASI Pusat yang waktu itu masih diketuai Pujo Basuki - sekarang dikenal sebagai Abah Pujo, merintis Turnamen Mancing Kupang pertama kali. Sejak saat itu turnamen secara rutin dilaksanakan setiap tahun, hingga yang ke-12 pada tahun ini. Saya bergabung bersama Josef dan Adhek Amerta dalam satu tim berbendera Tim Majalah MANCING. Salah satu perusahaan mutiara asal Jepang di Kupang menurunkan dua tim sekaligus. Di sepanjang sejarah Turnamen Kupang, tim berbendera P.T.Tom ini telah berulangkali memborong gelar juara. Perairan Kupang adalah playground mereka. Selain itu ada Tim Merpati dari Jakarta yang juga sudah dua kali ikut turnamen di sana. Dan ini dia.., Tim Kemala Sari dengan pemancing dr. Ari Yunanto DSA dari Banjarmasin dan dr. Benyamin dari Jakarta. ’Lurah Ujung Kulon’ yang kerap juara di berbagai turnamen sejak 1996 - terakhir juara Turnamen Mancing di Painan Padang baru-baru ini - akan memimpin tim dokter menghadapi ’guru’ yang mengajarinya popping, Adhek Amerta. Benyamin yang telah memperdalam ilmu Kulon (Barat) tentunya tahu persis kekuatan dan kelemahan ilmu Wetan (Timur) yang diajarkan Adhek asal Bali. Peserta lainnya adalah pemancing lokal atau pemancing asal luar Kupang tapi mempunyai bisnis di Kupang. Ada pedagang sapi asal Surabaya, ada yang membudidaya mutiara, ada yang pengusaha restoran, dan lain lain. Jumat sore seluruh peserta diminta berkumpul di Tournament Base yang berada di pantai Tablolong, sebuah desa nelayan kecil tapi mungkin terbesar, berjarak 27 Km ke arah Barat Daya dari Kupang. Kami dikumpulkan di suatu ‘lapangan terbuka’ yang telah diberi naungan sederhana dari bahan terpal plastik. Bukan benar-benar lapangan terbuka sebenarnya, tapi memang semua tempat di Kupang memberikan kesan seperti itu, karena tidak ada tumbuhan rimbun yang memberikan kesan sebagai pembatas alami. Tidak ada hotel atau penginapan di Tablolong, kecuali jika Anda mau tinggal menumpang di rumah penduduk setempat. Tidak terlihat mesjid yang biasanya bisa kita tumpangi sebagai musafir, tapi ada gereja yang tampak masih baru. Ada beberapa kendaraan angkutan umum ke Tablolong, mulai dari pukul enam pagi hingga lima sore. Tarifnya Rp 7000 per orang sekali jalan.
Dari beberapa kali komunikasi melalui SLJJ sebelumnya kami sudah sepakat untuk hanya akan popping dengan target Giant Trevally. Konon kabarnya ikan yang biasa hanya disebut GT itu selalu menjadi andalan Tim P.T. Tom dalam merebut juara. Masalahnya adalah kami tidak mengenal medan sebaik mereka. Jadi dengan mengandalkan peta C-Map yang terpasang di Raymarine L760RC Plus, kami mencoba menganalisa kontur bawah laut di sepanjang area turnamen. Mencari letak drop-off atau tubiran, meraba-raba dan mengira-ngira dimana kiranya upwelling bisa terjadi. Menghitung jarak dan memperkirakan waku yang dibutuhkan untuk pergi dan pulang ke lokasi yang potensial dan melihat perkiraan waktu terjadinya pasang dan surut. Satu masalah lagi yang cukup besar adalah kami tidak memiliki informasi tentang arah dan kuat arus di lokasi turnamen. Apalagi perkiraan waktu kapan arus akan berubah. Rupanya kekurangan informasi dan keengganan untuk bertanya berakibat cukup fatal. Pada turnamen hari pertama kami memutuskan untuk menjajaki sebelah Timur Laut Pulau Rote - ada yang menyebutnya sebagai Pulau Roti, entah apa nama resminya, tapi bagi saya enaknya disebut Pulau Rote saja, karena pemandangannya jauh dari roti yang kesannya empuk dan lembut. Di tempat itu ada Tanjung Mondo yang berhadapan dengan drop off sangat bagus. Tinggal menunggu saat air laut pasang yang diperkirakan bakal terjadi sekitar pukul 10.00 – 10.30. Saat muncul arus Timur semestinya lokasi itu akan menjadi tempat yang ideal untuk mencari GT dan ikan lainnya. Tetapi tanpa dinyana, ternyata arus utama malah berasal dari Barat! Praktis kami berada di tempat yang paling salah dan waktu yang salah, kami tersesat sekitar 15 mil laut dari hot spots waktu itu, yakni di gugusan karang Pulau Tabui, yang merupakan pulau terjauh di sebelah Barat. Kapal pancing kami adalah kapal nelayan jaring bermesin ‘ganda campuran’ laiknya pemain tenis di kejuaraan Wimbledon. Satu mesinnya Kubota Diesel 27 HP inboard dan yang lainnya adalah Yamaha 40 HP outboard. Jadi bukan dipasang kiri dan kanan seperti umumnya kapal dengan dua mesin, tetapi atas dan bawah! Tidak heran jika kapal yang sebenarnya berbadan cukup ramping dan mestinya bisa lebih laju itu cuma mampu dipacu sampai 8,6 Knot saja. Akan sia-sia saja kalau kami berbalik arah untuk memperbaiki kesalahan. Sebab jarak 15 mil ke Pulau Tabui baru bisa dicapai dalam waktu sekitar dua jam, sedangkan jam waktu itu menunjukkan pukul 11.45. Waktu terbaik pada saat berangkat surut pukul 10.30 atau berangkat pasang pukul 14.30 akan terlewati. Kami sudah kehilangan peluang terbaik pada hari itu. Satu hal lagi, sudah ada laporan bahwa Tim PT. Tom I telah mengangkat GT seberat 30 kiloan. Untunglah masih ada jalan dan kesempatan untuk ’mengobati malu’ atau paling tidak membersihkan sedikit coreng di muka. Sekitar tengah hari ada berita di radio bahwa Tim Merpati mengalami naas, satu-satunya mesin di kapalnya rusak, sehingga harus segera ditarik kembali ke tournament base. Kapal kami yang kebetulan letaknya berada paling dekat ’akhirnya terpaksa’ menjadi tug boat bagi kapal Tim Merpati. Selamatlah kami dari tekanan beban moril, akibat tidak mendapat seekor ikan pun di hari pertama. Terbayang guyonan yang bakal muncul, “Adhek Amerta dedemit popping dan Josef Siantari dedengkot FORMASI NTT nyari GT di gudang GT hasilnya GT alias Gagal Total? Ah.. apa kata dunia! Walhasil, siapa yang sebenarnya menyelamatkan siapa. Tim Merpati diselamatkan atau tim dedemit dan dedengkot yang terselamatkan? Di hari kedua, kami berangkat dari hotel di Kupang sekitar pukul empat subuh. Tim Kemala Sari yang ingin mengejar ketinggalannya di hari pertama karena hasilnya juga masih kosong malah berangkat saat masih gelap, sekitar pukul 3.30. Mereka berencana menuju gugusan Karang Beatrice sementara kami berencana mengarah ke Tabui. Tablolong pada pukul 5.00 masih terlelap. Saat sedang bersiap-siap, entah datang darimana seorang wanita berusia sekitar 27 – 29 tahun menghampiri, tersenyum kepada Adhek Amerta, Adhek pun membalas senyum, sehingga mereka saling bertukar senyum…. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka, hanya binar-binar mata saja yang saling bertautan. Tampaknya wanita ini belum mandi, rambutnya acak-acakan, malah menggenggam dua-tiga lembar uang ribuan di tangan kanan dan membawa tas selempang terbuat dari kain lusuh di tangan kiri, sehingga kesannya jauh dari anggun apalagi romantis. Adhek segera merogoh dompet memberinya lembaran berwarna merah yang mestinya itu adalah uang, tapi tidak jelas apakah lembaran 10 ribu atau 100 ribu. Untuk saya kejadian itu biasa saja, tapi rupanya berkesan cukup mendalam bagi Adhek, seperti yang akan saya ceritakan nanti…. Solar dan bensin yang dibeli di Kupang - karena tidak ada SPBU di Tablolong - dipindahkan dari mobil ke kapal. Semua peralatan pancing dan ransum dinaikkan ke kapal menggunakan kole-kole - perahu kecil yang dibuat dari kayu sebatang pohon utuh - karena Tablolong juga tidak mempunyai dermaga. Saya masih harus ‘dikerek’ naik ke atas oleh ABK, karena tidak punya cukup otot yang kuat untuk ‘mengerek’ badan sendiri. Sejumlah orang di pantai menertawai saya, tapi saya tidak merasa malu, bukan karena tebal muka, tapi so what gitu loh... gue juga pernah kuat, entaran elo juga bakal sama juga kayak gue…. Gugusan karang Pulau Tabui sangat luas, kedalamannya sekitar 5 -12 meter, dasarnya pasir dengan gerombolan karang di sana-sini. Popper dilontar ke kiri dan ke kanan, kapal digeser kesana kemari, tak terhitung popper diganti jenisnya, lebih dari 100 lemparan telah dilakukan oleh Adhek dan Josef, hanya menghasilkan satu strike. Baru diajar sekitar 15 detik, saat dirasakan bahwa ikannya kecil saja dan yakin pasti jauh dari 30 kilo, yang Adhek lakukan kemudian sungguh tak saya duga, diangkatnya joran perlahan-lahan namun segera diturunkannya kembali dengan cepat sehingga tali PE menjadi kendor. Dalam waktu singkat ikan pun berhasil dirilis dengan sukses. Adhek memang selalu memakai pancing barbless, dengan maksud agar mudah melepasnya lagi dari mulut ikan. Menurutnya, rasio hook-up antara pancing barbless dan pancing normal sama saja, asalkan ujungnya runcing dan tajam. Baru pada pukul 11.10 ada strike lagi, kali ini GT yang diduga berbobot sekitar 15 kg diangkat, karena masih berpotensi untuk merebut hadiah, walaupun sempat juga hendak dirilis. Popping dilanjutkan sambil terus mencari spot yang kira-kira dihuni biang GT, kali ini lebih dari 150 kali karena semangat mulai naik, hasilnya tetap nol. Sudah biasa saat-saat begini memicu gagasan atau ide tertentu. ABK mengusulkan troling saja, karena turnamen tahun lalu mereka berhasil mengangkat GT seberat 36 kg dengan troling Rapala X-Rap. Adhek tetap bersikukuh, ”Kalau dengan troling ikan mau makan dengan popper pasti juga doyan,” begitu katanya. Josef Siantari sang komandan Tim Majalah MANCING juga tetap tawakal pada rencana semula, yakin pada pendapat sang maestro. Saya sangat senang ketika ia kemudian mengusulkan sesuatu yang ditunggu-tunggu….. makan! Sangat lahap kami makan bekal nasi dan lauk telur dadar plus sedikit sambal…. Minum air mineral dan buah per setengah dingin. Meminjam istilah di sana, untung bae, matahari yang terik, disapu angin Tenggara yang kering dan sejuk, jadi tidak terasa panas menyiksa, tapi tahu-tahu kulit sudah terbakar. Untuk Adhek dan Josef yang sudah punya lapisan pelindung matahari alami tidak berakibat apa-apa, tapi buat saya yang lupa membawa krem pelindung matahari, akibatnya bisa dibayangkan. Pukul 12.00 tengah hari bolong, sesi melontar popper kembali dilanjutkan. Upacaranya masih tetap sama, menggonta-ganti popper, mengubah-ubah arah lontaran, dan menggeser kapal kesana-kemari, tetap tidak berubah walaupun sedikit waktu lagi turnamen akan berakhir. Diyakini oleh Adhek bahwa GT di daerah ini sudah kenal dengan popper, karena seringkali popper diikuti oleh ikan namun tanpa disontok. Itu sebabnya maka ia sering mengganti popper dengan karakteristik berenang yang berbeda. Katanya ikan juga buta warna, maka ia hanya memilih dua warna gelap atau warna terang. Secara mengagumkan teori dan praktek yang dipaparkan Adhek langsung bisa dibuktikan kebenarannya, karena 18 menit kemudian popper Bell bertipe chugger yang baru saja menggantikan popper Goby bertipe swimmer/pencil diikuti oleh dua ekor GT. Kami semua terkesiap, jelas sekali terlihat ikan paling depan yang mengejar umpan berukuran sangat besar, hampir dua kali lipat daripada yang mengekor di belakang. Tapi entah kenapa, mendadak ia melengos memutar badan dan kemudian menjauh. Bersamaan terdengar Adhek mengumpat karena kecewa, namun tetap saja ia tak berhenti memainkan popper. Dua detik paling lama, disertai kecipak air yang besar, joran pemberian Konishi Kenji, boss pemilik merek Carpenter, melengkung yang cukup membuat saya ngiler. Untung niat untuk merilis ikan seperti yang terdahulu belum sempat terlaksana, karena hunjaman joran akibat tali PE yang ditarik sang ikan tidak kunjung berhenti dan katanya - karena saya tidak merasakan sendiri - terasa berat walaupun sudah dibantu dengan ’drag jempol’ khas pemancing popping. Adhek yang merasa tertantang menjadi meradang, “Lu jual, gue beli …,“ katanya lantang, persis jagoan lenong betawi. Sayang kapal yang dek depannya tidak berpagar membuat ia sedikit kerepotan. Apalagi harness-nya hanya berupa lipatan kulit perutnya yang gendut. ![]() Lokasi Strike 1 dan Strike 2 Berita radio segera disampaikan kepada Tournament Base, yang selanjutnya mengumumkannya kepada seluruh peserta. Mendadak saya teringat pada dr. Benyamin. Rasa-rasanya sejak pagi belum terdengar berita tentang Tim Kemala Sari... Hasil akhirnya, GT 32.5 kg perolehan Adhek menjadi ikan terberat, mempertahankan Piala Gubernur NTT dan hadiah uang tunai Rp 8.079.000,- direbut oleh Tim Majalah MANCING. Juara kedua Tim P.T.Tom 1 dengan GT 31 kg mendapat hadiah uang tunai Rp 7.079.800,- . Juara Ketiga dengan GT seberat 22.5 kg dan hadiah Rp 6.079.800,- direbut oleh pemancing Martinus Pake, Juara Keempat direbut oleh dr. Ari Yunanto DSA dari tim Kemala Sari mendapat hadiah Rp 5.079.800,- . Juara Kelima oleh tim PT.Tom 2, dengan pemancing Matsuita-san merebut hadiah Rp 4.079.850,- dan Juara Keenam, dr. Benyamin dengan hadiah Rp 3.079.850,- . Entah kenapa hadiah uangnya bisa sampai pecahan ratusan bahkan lima puluh rupiah. Mungkin demi tertib administrasi negara sehingga audit BPK nya beres, yang jelas mengetik angka-angka di atas sangat merepotkan saya dalam menyusun laporan ini. Semua hadiah dibayar dengan uang tunai, tidak jelas apakah ada pecahan uang lima puluh rupiah yang diserahkan kepada dr. Benyamin. Bagi Adhek ‘adegan subuh’ dengan wanita yang – kelihatannya – kurang beruntung itu rupanya ditengarai sebagai awal hari keberuntungannya. Pesta penutupan dilanjutkan dengan melibatkan seluruh masyarakat Desa Tablolong, para undangan disuguhi air mineral gelas, sepotong singkong rebus dan sebuah pisang kepok rebus di dalam kotak. Para undangan dihibur dengan tarian Ja’í, tarian khas Timor, yang dilakukan oleh sekelompok anak perempuan dari desa tersebut. Pemancing dari Jakarta didaulat untuk menampilkan kebolehannya menari Ja’i. Maka beraksilah tim dua dokter plus satu dokter reporter di panggung desa Tablolong, melenggok dengan gemulai… menghibur masyarakat desa Tablolong yang tergelak-gelak dan bertepuk sorak meriah. (AS) |
You need to login or register to post comments.
| < Prev |
|---|













