| Mancing Baronang di Pulau Onrust |
|
|
|
|
Saya tak pernah benci hari Senin. Tetapi sungguh, tak ada yang lebih nikmat dibandingkan ngebut di kapal untuk pergi mancing meninggalkan Jakarta di hari Senin yang pasti akan sangat macet itu. Apalagi dengan hasil yang tidak mengecewakan mancing di hari senin semakin bertambah nikmatnya. Selama ini menurut saya kenikmatan paling wah saat naik kendaraan angkutan umum (saya tak punya kendaraan pribadi) di kota Jakarta adalah saat jalanan sedang sepi di pagi buta dimana para penghuninya masih bermalas-malasan untuk bangun atau di malam larut saat penghuni kota sedang terlelap. Berada di kendaraan di keadaan yang seperti itu menurut saya sangat nikmat. Dari rumah saya di Pangkalan Jati, Kalimalang hingga kantor Majalah Mancing di Senen saya bisa menempuhnya maksimal setengah jam. Wheees! Langsung sampai! Sangat jauh berbeda jika sedang waktu-waktu sibuk, pagi saat jam berangkat kerja atau sore saat jam pulang kantor, perjalanan saya bisa sampai dua jam. Itupun dengan bonus tambahan yang sama-sama kita tahu bersama tidak enak rasanya; bising, udara kotor, pengap dan panas serta stress. Tetapi mulai 19 November 2007 keyakinan saya memegang ideologi kenikmatan naik angkutan umum di jalanan sepi tadi berubah. Dimulai dari sms Ikshan “Ichang” Setianto hari minggu (18/11) sore saat saya masih 'sibuk-sibuknya' di Bekasi. “Besok jam 4 ente gw jemput di Senen,” tulisnya di sms. Meski dia tidak menulis detail saya langsung on sebab masalah trip mancing baronang telah kami bahas beberapa kali dan sempat tertunda karena berbagai faktor. Mulai dari cuaca, pekerjaan dan juga karena sang baron ternyata juga banyak yang sibuk perjalanan luar kota alias menghilang dari spot-spot baronang selama ini. “Jam lima pagi kita sudah ditunggu bos di Pantai Mutiara,” tulis Ichang lagi. Bos yang dimaksud Ichang adalah Johan, pemancing pemilik kapal Boston dan Noah's Ark yang beberapa tahun belakangan ini sakau ngeggarong. Wah serius nih, batin saya. Berarti sang baron memang benar-benar sedang “mengamuk” (istilah garongers jika baronang sedang galak). Saya menjadi plong karena trip mbaronang yang tertunda beberapa kali akhirnya akan terlaksana juga. Saya pun langsung mengiyakan sms Ichang. Kenikmatan itu akhirnya terjadilah. Jam setengah enam pagi, saya, Ichang, dan Johan beserta dua abk yakni Harto dan Iwan sudah meluncur cepat membelah perairan Teluk Jakarta menuju Pulau Onrust yang berdasarkan data terbaru baronangnya sedang mengamuk. Laut masih teduh dan berselimut kabut tipis. Tak ada ombak. Matahari di langit sedang bergulat mengusir kabut. Jakarta semakin kabur di belakang kami. Boston, speedboat berukuran sekitar 5 kali 1,8 meter yang didorong mesin 70 PK melaju cepat seperti seakan ingin menjelma menjadi kapal pancing yang bisa terbang. Selama perjalanan yang tak lebih dari seperempat jam itu Johan bercerita kepada saya dan Ichang bahwa Sabtu kemarin (17/11) baronang Pulau Onrust bener-bener kelaparan. “Makan terus!” katanya senang. Tak berapa lama sampailah kami di Pulau Onrust. Tetapi sambutan pertama yang kami terima agak kurang nyaman. Bukan karena sampah yang begitu banyak yang memang ciri khas Kepulauan Seribu saat ini melainkan banyaknya ikan mati yang mengapung dan menyebarkan bau tak sedap. Entah apa sebabnya. Kalau berdasarkan pemilik warung sebelah dermaga Pulau Onrust ikan-ikan itu mati karena limbah berbahaya yang ada di perairan Teluk Jakarta sedang “jalan-jalan” karena terbawa arus sehingga membunuh spesies ikan tertentu. Johan memutuskan untuk langsung ngoyor. Sambil menenteng peralatan tempur mancing baronang, abk Iwan mengiringinya dengan cepat. Tetapi Ichang ingin bayar hutang mancing baronang dari kapal. Maka saya, Harto dan Ichang tetap di Boston. Baru saja Harto mengambil alih kemudi dan siap mengarahkan Boston ke spot yang bagus Ichang berteriak seperti baru siuman dari pingsan. “Tegeg gw ketinggalan!” teriak Ichang. Waduh! saya dan Harto hampir berbarengan menjawab. Mau mancing baronang tapi tegeg ketinggalan? Piye iki Chang... Saya, Ichang sama-sama kebingungan dan sulit berkata-kata jelas. Harto cepat memberi solusi. “Pakai tegeg bos saja. Khan dia bawa dua?” Boston kembali ditambatkan di dermaga dan Harto berlari mencari bosnya untuk minjam salah satu tegeg. Ichang masih shock. Saya juga shock. Tak berapa lama Harto sudah kembali dengan tegeg di tangan. Kami bertiga kemudian bergerak mencari spot yang cocok untuk aplikasi mancing baronang dari kapal. Ichang pun kemudian memilih spot di dekat ceker ayam yang terdapat di tepian Utara pulau, sama seperti dilakukan oleh garongers lain yang sudah berbaris rapi pagi itu. Hanya saja Ichang sendirilah yang solo karir mancing baronang dari kapal sementara garongers yang lain termasuk Johan memutuskan untuk ngoyor. Saat Harto sibuk mencari posisi pas untuk lego jangkar dan Ichang sibuk mempersiapkan tegeg, tali, garong dan lumut, garongers yang ngoyor sudah berkali-kali menaikkan sang baron yang dengan cepat disusul oleh Johan yang juga langsung berhasil menaikkan ikan. Mancing baronang dari perahu yang memang lebih sulit dibandingkan dengan teknik yang lain tak pelak membuat Ichang selalu kecolongan. Berkali-kali lumut di garong telah gundul tanpa Ichang sadari. Atau kalaupun Ichang sadar ada strike, selalu telat ngegentak. Saat Ichang kembali menyadari jampi-jampi GGB, Johan (dan garonger lain yang tak kami kenal) yang ngoyor tak jauh-jauh dari Boston telah berkali-kali mencetak gol. “Satu kosong,” ucap Johan pada pukul tujuh pagi. “Dua kosong,” ucap Johan pada pukul tujuh pagi lewat sepuluh menit. Kali ini dengan senyum lebih lama sambil memandang Ichang. Dan setiap kali Johan mencetak skor Ichang selalu ngakak. Dan di pukul tujuh empat puluh lima menit pagi saat itu skor telah menjadi 5-0. Lima untuk Johan dan nol untuk Ichang. “Maklum ilmu baru!” teriak Ichang sambil ngakak. Saat skor beranjak ke 6-0 Ichang melakukan perubahan permainan. GGB lebih intensif dilakukan. Dia jugIMG_66541a mengganti pelampung yang lebih ringan agar setiap gerakan pelampung akibat umpan dimakan ikan lebih gampang dideteksi. Maklum konsentrasi mancing baronang dari kapal memang memerlukan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan mancing dari dari dermaga ataupun saat ngoyor. Ichang sempat khawatir bahwa kalau-kalau fenomena “lapor kodim” juga berlaku untuk sang baron saat satu ikan sempat mocel karena kelamaan fight. Tetapi sepertinya baronang tak kenal dengan “kodim” setempat, dan memang tak ada kantor kodim di Pulau Onrust, dan hasilnya pada pukul 8.23 WIB skor pun berubah menjadi 6-1. Suporter di kapal Boston pun bersorak-sorai. Sesi pemotretan langsung digelar dan lempar pantun antara Ichang dan Johan menjadi semakin meriah. Tetapi tiga menit kemudian skor kembali berubah menjadi 7-1. Ini menggoyahkan iman Ichang. Pukul 8.49 WIB Ichang terjun ke air bergabung dengan Johan. Tak mau ketinggalan dengan baronang yang sedang on, Ichang tidak mau mengikuti kapal tambat di dermaga. Dia langsung turun dari kapal ke sebuah bongkahan batu besar yang tampaknya reruntuhan dari bangunan masa lampau. Tetapi tampaknya kenyataan memiliki hukumnya sendiri. Sekonyong-konyong datanglah rombongan sampah yang berasal dari sisi Barat Pulau Onrust dan melintasi areal para garongers. Baronang langsung menghilang entah kemana. Tak ada sambaran sama sekali. Para garongers gelisah dan bergonta-ganti tempat. Tetapi karena baru saja turun dari kapal, Ichang tak bergeming dengan posisinya. Bisa jadi Ichang sibuk mengirimi sms umpatan ke para baronang kenapa pas dia turun ngoyor untuk ikut pesta tiba-tiba ikan-ikan menghilang. Sekitar jam 12an, saat mentari semakin tinggi, para garongers telah terkonsentrasi di ujung Barat sebelah Utara pulau. Baronang kembali makan teriak mereka. Tampaknya karena sampah telah berlalu dan air kembali menjadi lebih jernih. Kenyataan ini meneguhkan kebenaran tesis Budi Onrust, yang sayangnya tidak bergabung dengan trip kali ini, bahwa baronang Pulau Onrust ngamuk kalau airnya tidak keruh.
Hari itu Johan memang sang jawara. Ketika sang baron kembali makan dia langsung strike baronang super, seekor baronang batik yang besarnya hampir 9 jari penuh! Sangat indah melihat Johan fight baronang super ini. Saat sekitar sepuluh garonger lain sedang manyun, dia strike sendirian dan terlihat jelas joran melengkung lama karena ikan sangat berat dan kuat. Dan ketika berhasil naik, ikan tampak melompat di udara menuju arah kaki Johan. Harto dan Iwan yang setia di samping bosnya dengan sigap menangkap baronang super itu dan memasukkannya ke korang. Senyum puas jelas terlihat di wajah Johan. Ichang mengamati adegan itu dalam diam. Tampaknya Ichang sedang berfikir bahwa jika baronang kembali makan, artinya di spot saat tadi dia turun dari kapal harusnya juga akan galak. Maka segera dia undur diri dari kumpulan besar garonger dan kembali ke spot semula saat dia turun dari Boston. Dan ternyata tesis Ichang benar. Satu baronang super juga berhasil dia naikkan meski tidak sebesar milik Johan. Saat diteriaki dari kejauhan Ichang hanya ngakak. Tangkapan Ichang mengakhiri waktu galak hari itu. Angin dari Utara bertiup cukup kencang dan ombak di tepian pulau dipenuhi riak-riak air. Ichang dan Johan bersikukuh untuk terus ngoyor baronang tampaknya telah berhenti makan. Jika mengacu pada buku panduan mancing baronang di Pulau Onrust, kata Ichang baronang akan kembali galak sekitar pukul empat hari itu. Johan berniat menunggu, tetapi Ichang memilih pulang. Apalagi di langit mendung menjadi gelap. Tak berapa lama kami pun telah melaju lebih cepat dari tadi pagi meninggalkan Pulau Onrust menuju Pantai Mutiara. Johan tersenyum puas selama di Boston, dan Ichang agak tersipu-sipu setiap Johan berbicara tentang tangkapan hari itu. Skor akhir memang sangat meyakinkan, 10 untuk Johan dan dua untuk Ichang. “Gimana lo Chang, cuma dua,” goda Johan sesampai di Pantai Mutiara. “Hahahahaha,” Ichang tergelak.(MR) |
|
Mancing Baronang di Pulau Onrust
Dec 26 2009 10:23:35 ** This thread discusses the Content article: Mancing Baronang di Pulau Onrust **
Hahaha......nostalgila 2 taon lalu ternyata masih tersimpen dengan rapi, bravo Mike! Kagak percuma karier ente melesat cepat melebihi kecepatan jet tempur F-16, hehehe....... Sori baru sempet nengokin situsnye sekarang walopun udeh sangat terlambat karena sekarang ente udeh bergabung dengan temen2 mancing mania di Trans7. Congrats Mike kalo ente masih sempet mbaca..... Salam support, Ichang- |
#220 |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|













