| Menghidupkan Kembali Sportfishing di Timor Leste |
|
|
|
|
Sport Fishing adalah sebuah kegiatan yang tergolong baru di Timor Leste. Dirintis pertama kali pada tahun 1995 di bawah naungan FORMASI (ketika masih Timor Timur) oleh sejumlah pemancing seperti Dave Lee, Alberto Carlos, Made, Abdullah, Marno dan beberapa teman lain. Di perairan antara Pulau Atauro (biasa disebut juga Pulau Kambing) dan Pulau Liran (salah satu pulau paling selatan Propinsi Maluku), FORMASI Timtim waktu itu bahkan sempat mengadakan lomba mancing menggunakan fasilitas kapal AL yang diikuti oleh puluhan pemancing, yang di antaranya datang dari Bali, Surabaya dan juga Jakarta, selain dari Pulau Timor sendiri. Nursasongko Anwar, wartawan dari Majalah Mancing waktu itu juga sempat diundang untuk meliput secara langsung. Saat ini sport fishing sudah semakin digemari, dapat dilihat dari animo warga kota Dili yang pada setiap akhir pekan ramai mancing di pantai, bahkan banyak pula yang mancing sampai ke Pulau Kambing di bagian utara, perairan Liquisa, Manatuto dan Manufahi. Hasil tangkapan tidak terlalu buruk. GT, kakap merah, barakuda, tenggiri, dan tuna sirip kuning adalah jenis-jenis ikan yang kerap membuat saya dan para pemancing Dili lainnya dapat saling bercerita ketika bertemu satu sama lain pada saat-saat hari kerja. Sejumlah pemancing juga sudah ada yang membeli speed boat, joran dan ril trolling. Lebih lebih orang Timor Leste yang lama bermukim di Australia. Banyak lokasi mancing, baik untuk troling maupun mancing dasar, yang sangat menarik di Timor Leste, di antaranya di Lospalos, tanjungan timur Pulau Jako, Betano, dan Natarbora di pantai selatan Manatuto, Maubara serta Loes di pantai utara. Popping baru dikenalkan tahun ini, itu pun setelah saya ke Jakarta dan membeli beberapa piranti di Toko Pancing WBW (aka AUA) di Jalan Gunung Sahari. Karena belum yakin betul, pertama kali saya hanya berani mencoba di pantai Manatuto. Ternyata benar, belum 10 kali lempar saya mendapat sambaran GT sekitar 12 kg. ![]() GT di Maubara Timor Leste
Pernah pada satu kesempatan saya popping di depan banyak sekali orang di pantai pasir putih di Dili. Beruntung, baru sebentar saya langsung mendapat strike. Jadilah selama pengajaran menjadi momen yang sungguh sangat mengesankan, karena merupakan show indah dan langka bagi mereka semua yang menonton. Sesudahnya ramailah orang bertanya-tanya dimana tempat membeli umpan itu, berapa harganya, kenurnya apa, rilnya merek apa..., dan banyak lagi. Bagaikan ‘guru besar’ saya lalu menunjukkan satu-satunya toko pancing di Dili yang memang menjual umpan tersebut, walaupun persediaannya sangat terbatas. Pada hari berikutnya ketika saya ke toko pancing itu, ...eh... ternyata semua umpan yang ada telah habis dibeli orang! Payah... tidak satu pun disisakan untuk saya. Tapi tak apa-apa, hitung hitung promosi popping yang ongkosnya jauh lebih murah daripada troling. Untuk merekrut pemancing agar bisa membentuk sebuah federasi saya pergi dari satu pantai ke pantai yang lain, mengajak teman-teman mancing dan berdiskusi. Mulai ada yang tergerak untuk membentuk ... bukan FORMASI yah.. mungkin FORMATL? atau Federacao Pesca Desportiva dalam Bahasa Portugis. Berbekal ilmu dari FORMASI dan pengalaman memimpin FORMASI di masa lampau, mungkin suatu saat mimpi ini akan menjadi kenyataan. Dukungan FORMASI dan abah Pujo Basuki, Sulaiman, Susanto Nursewan, Bobby Halim, dan teman-teman pemancing lain dari Jakarta dan lainnya tetap diharapkan oleh saudara muda di Timor Leste. Alberto Carlos,Koresponden Majalah Mancing di Timor LesteMantan Ketua FORMASI Timor Timur |
You need to login or register to post comments.
| < Prev | Next > |
|---|













